Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Barat mengubah metode pengangkutan sedimen lumpur hasil pengerukan kali dalam upaya antisipasi banjir dan genangan.
Kepala Sudis SDA Jakarta Barat, Mustajab, mengungkapkan saat kini pengangkut lumpur tidak lagi dibagi ke sejumlah tiik pengerukan secara bersama.
“Pengangkutan kita lakukan dengan armada penuh di satu titik pengerukan. Setelah selesai, baru kita pindah ke titik lain,” jelas Mustajab, Rabu (30/9).
Menurutnya, pola tersebut diterapkan karena pembagian armada di sejumlah lokasi dinilai kurang efektif. Ia menjelaskan, pengangkutan dilakukan usai pengerukan pada satu segmen selesai, kemudian seluruh material lumpur dipindahkan sebelum pekerjaan berlanjut ke segmen berikutnya.
“Misalnya satu segmen kita angkut dengan 30 dump truck. Setelah selesai, baru kita pindah ke bagian hilir atau hulu yang pengerukannya belum dilakukan,” jelas Mustajab.
Diungkapkan Mustajab, saat ini pengerukan lumpur berlangsung di sepuluh titik yang tersebar di sejumlah kali wilayah Jakarta Barat. Antara lain Kali Mookervaart, Kali Angke, Kali Grogol, Kali Semongol, Kali Citra 5, dan Kali Sepak.
“Untuk Kali Grogol, pengerukan dibagi menjadi dua segmen, yakni kawasan Latumeten dan Kemanggisan. Pengerukan di Latumeten merupakan pekerjaan baru, sedangkan di Kemanggisan telah berlangsung hampir tiga pekan,” ungkapnya.
Mustajab menambahkan, material lumpur hasil pengerukan di Kali Grogol Kemanggisan terlebih dahulu dipinggirkan sebelum diangkut truk.
“Di Kemanggisan, material lumpur sudah kita pinggirkan, kemudian setiap hari diangkut menggunakan 21 dump truck. Metodenya nanti seperti itu semua,” pungkasnya. (Aji)





