Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah mengunjungi Gang Hijau dan lingkungan RT 08 RW 01 Kelurahan Tanjung Duren Selatan (TDS), Kecamatan Gropet, Minggu (18/10).
Bersama Camat Grogol Petamburan Raditian Ramajaya, Lurah TDS Indri Prawiji, pengurus RT/RW dan tokoh masyarakat setempat. Menyusuri gang sempit Gang Hijau sapanjang sekitar 300 meter, Iin mengaku bangga melihat kebersihan dan kelengkapan prasarana pendukung program pilah sampah.
Seperti tersedianya tempat/tong sampah pilah sesuai jenisnya di beberapa titik, cat di tembok warna-warna cerah berisi informasi/edukasi terkait sampah dan pengelolaannya, urban farming, kolam gizi, budidaya maggot dan lain sebagainya yang berada di ujung Gang Hijau lingkungan RT 08/01 TDS. Di lingkungan tersebut juga ada sebelas APAR, dan telah terbentuk Kampong Siaga Bencana.
“Satu kata buat saya, keren, keren banget ya, ini RT 08 RW 01 Kulurahan Tanjung Duren Selatan, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Saya datang kemari melihat langsung bagaimana upaya Pak RT, kemudian didukung Pak RW, LMK, tokoh masyarakat bersama para kader, dan juga warga masyarakatnya sudah secara konsisten melaksanakan gerakan pilah dan olah sampah,” ujar Iin.
Menurutnya, lingkungan tersebut bisa jadi contoh bagi lainnya.
“Walaupun lingkungannya kita melihat ada keterbatasan ruang, tidak ada fasos-fasum yang luas, tetapi memanfaatkan ruang yang terbatas ini ternyata juga bisa. Artinya bahwa ini bisa jadi contoh buat lingkungan yang padat, lingkungan yang tidak memiliki fasos-fasum yang banyak, karena ternyata kalau ada kemauan pasti ada jalan,” tandas Iin
Ia berharap kondisi tersebut bisa terus ditingkatkan.
“Saya sangat apresiasi terhadap konsistensi ini. Mudah-mudahan tentunya ini terus ditingkatkan inovasinya, juga selain kebersihan pengolahan sampahnya, kemudian juga ada kolam gizi, memanfaatkan saluran, memanfaatkan tempat yang kecil, dan juga menggunakan tong,” sebut Iin.
Selain itu, ada urban farming, ada keamanan, dan juga ada sistem kamtibmas yang dibangun oleh siskamling.
"Itu merupakan salah satu contoh baik, peran serta partisipasi masyarakat di sini. Ini sangat layak dan sangat bisa ditiru oleh wilayah lain,” tandasnya.
Untuk itu, lanjut Iin, ia minta RW setempat menjadikan lingkungan RT lainnya seperti RT 08/01.
“Tadi saya kasih challenge kepada Pak RW, coba nanti satu RW ini bisa semuanya seperti ini. Saya yakin sudah, tetapi secara maksimal nanti bisa dioptimalkan lagi. Dan semua lingkungan menurut saya punya karakteristik, tidak harus persis tetapi substansinya sama, di mana kita harus mengurangi sampah dari hulu, sehingga yang diangkut ke tempat sampah itu sudah dipilah,” imbuhnya.
Jadi, sampah yang sampai ke TPS sementara sudah dalam posisi sampah yang sudah dipilah.
“Itu menunjukkan bahwa Ingub no 5 tahun 2026 sudah dipahami dan sudah dilaksanakan oleh masyarakat. Ketika sebuah wilayah tidak sama secara geografis, saya yakin itu menjadi tantangan, tetapi bisa memunculkan karakteristik yang berbeda antar wilayah bisa punya tema sendiri-sendiri,” katanya
“Kalau tadi saya lihat dari gangnya saja sudah diwarnai, dicat, dan edukasi tidak perlu sulit ya, dengan keterbatasan tempat di dinding tembok yang semula mungkin tidak ada warnanya. Dengan berwarna kan warga jadi semakin lebih semangat, dan anak muda juga semakin nyaman untuk tinggal di daerah-daerah seperti itu,” pungkas Iin.
Sementara itu, Ketua RT 08/01 TDS, Ahmadi, mengungkapkan untuk membangun kekompakan warga dan membuat lingkungannya seperti saat ini perlu waktu sekitar dua tahun
“Lingkungan kami ini dulu kumuh sekali. Jadi dengan semangat kami, dengan pengurus, saya berusaha untuk merubah kampung yang kumuh ini. Supaya lebih bagus seperti ini kita bangun semuanya. Jadi ini modal pribadi hampir sekitar Rp 30 jutaan lah,” sebutnya.
Di lingkungan tersebut juga sudah tersedia APAR.
“Mengenai APAR, Alhamdulillah kami sudah menyiapkan APAR sebanyak sebelas, itu kita siapkan semua di spot-spot yang mudah. Dan kemarin kami juga mengundang dari Damkar untuk sosialisasi warga. Alhamdulillah, antusiasme warga sangat luar biasa,” katanya.
Terkait pilah sampah, sambung Ahmadi, di lingkungannya yang terdiri atas 56 KK, sudah diterapkan.
“Jadi setiap rumah kita siapkan tong pilah sampah tiga, dan kita kasih nomor, yang berbentuk organik, anorganik, dan residu. Dan pengolahannya pun kami sudah berjalan dengan baik. Pilah sampahnya yang organik, kita buat kompos dan untuk maggot,” ujarnya. (Aji)





