Pihak Suku Dinas Pendidikan (Sudisdik) Wilayah II Jakarta Barat telah berkomunikasi dengan vendor proyek pembangunan gedung SMPN 130 Jakarta, terkait pagar lantai lima sekolah yang dinilai tak aman bagi murid maupun guru.
"Terkait dengan hal itu sudah dikomunikasikan dengan vendornya," ungkap Kasudis Pendidkan Wilayah II Jakbar, Muhammad Arif Rachman melalui pesan singkat.
Namun demikian, lanjut Arif, pihaknya belum merinci bentuk komunikasi yang dilakukan, termasuk respons saat ditanya terkait pemeriksaan lokasi pembangunan sekolah tersebut.
"Nanti saya coba komunikasi kembali," imbuhnya.
Sebelumnya, sejumlah orang tua murid SMP Negeri 130 Jakarta, Jalan KS Tubun, Kelurahan Kota Bambu Utara, Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat, khawatir kondisi pagar pembatas di lantai lima gedung sekolah yang dinilai belum memberikan jaminan keamanan bagi para murid
Berdasarkan gambar yang diterima, pagar nampak longgar karena hanya ditahan sebilah besi pada bagian persambungannya dengan tembok. Salah satu orang tua murid, mengaku khawatir terhadap kondisi tersebut, karena bisa membahayakan murid terutama jika terjadi benturan atau anak tidak sengaja bersandar pada pembatas.
“Agak khawatir lah anak kita nanti ya. Anak kejatuhan, apa gimana kalau misalkan kayak begitu mah,” ujar salah satu orang rua murid yang enggan menyebut nama, di SMPN 130, pada Kamis (17/9).
Ia berharap pihak sekolah maupun pengelola bangunan segera melakukan perbaikan agar orang tua merasa lebih tenang saat anak-anak mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
“Diperbaiki aja biar lebih aman, buat ngejauhin anak dari kejadian yang tidak diinginkan,” tuturnya.
Sementara itu, Anggota DPRD DKI Jakarta, Kevin Wu, juga menyoroti kondisi pagar di lanjati 5 yang dinilai belum memenuhi standar keamanan di sekolah tersebut. Ia turut mengapresiasi sejumlah perbaikan yang sebelumnya dilakukan, termasuk pemasangan pengaman pada bagian jendela.
“Yang lebih saya soroti adalah kekuatan penahan dari bagian besi hollow ini. Ini seperti di awal saya sudah sampaikan, ini berisiko tinggi. Karena satu, ketinggiannya. Yang kedua, kekuatannya,” ujarnya.
Kevin juga menyebut pada bagian tertentu masih terdapat sambungan yang dinilainya belum kokoh. Ia bahkan menemukan pagar masih dapat bergerak ketika diperiksa.
“Ini contoh ya, ini ternyata juga masih belum diperbaiki, cuma ada satu ikatan. Yang lain kita mau buka, dilem di ujungnya. Jadi bagi saya ini cuma kosmetik saja,” katanya.
Ia pun menilai kondisi tersebut jadi persoalan serius karena pagar berada di lantai lima dan berhadapan dengan aktivitas siswa. Risiko dapat muncul ketika siswa bermain atau bercanda dan secara tidak sengaja mendorong atau membentur pagar.
“Kalau anak-anak sekolah yang sedang bermain, bergurau, ini enggak sengaja terdorong, ini akan sangat berisiko,” ujar Kevin.
Untuk itu, meminta pihak pengelola pembangunan tidak hanya memperhatikan aspek estetika, tetapi juga memastikan konstruksi pengaman benar-benar kuat sebelum fasilitas sekolah digunakan secara penuh.
“Jangan hanya mempercantik tetapi tidak memperbaiki esensi dari yang kita minta. Saya pengen kekuatannya juga ditambah sebelum ini benar-benar diaktifkan,” tegasnya. Hingga kini, belum ada keterangan secara resmi dari pihak sekolah maupun pihak pengelola bangunan. (Aji)





