Sekolah Dasar Negeri (SDN) Joglo 05, Kelurahan Joglo Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat memberlakukan kawasan zero waste di lingkungan sekolah dalam rangka mendukung program pilah sampah dari sumber.
SDN Joglo 5 juga telah melakukan pengelolaan sampah melalui kegiatan komposting, pengumpulan sampah anorganik, budidaya maggot dan penerapan aturan siswa wajib membawa tumbler, serta memberlakukan aturan larangan membuang sampah sembarang.
Kepala SDN Joglo 05, Veranika, mengungkapkan secara konsisten, jajarannya melakukan edukasi pilah sampah dan menjaga kebersihan lingkungan kepada murid-murid maupun orang tua pelajar. Adapun upaya penerapan kawasan sekolah zero waste telah dimulai sejak Desember 2024 lalu.
"Kami secara teknis bekerjasama dengan sejumlah pihak untuk bisa mengelola sampah organik dan anorganik. Edukasi terus kita masifkan hingga saat ini bisa kita terapkan zero waste di lingkungan SDN Joglo 05," ujarnya, Rabu (12/8).
Lebih lanjut ia menyebut total jumlah murid kelas I hingga VI sebanyak 493 anak. Mereka sudah rutin melakukan pengumpulan sampah anorganik untuk ditimbang sebagai tabungan di Bank Sampah Kartabumi Recycling Center, tiap dua pekan sekali.
Selain murid, kegiatan pengumpulan sampah anorganik seperti kertas, kardus, plastik, besi dan streofoam juga melibatkan civitas sekolah dan orang tua murid dengan jumlah nasabah mencapai 800 orang.
Vera juga menyebut, tiap penimbangan, volume sampah yang dikumpulkan bisa mencapai hingga 2 ton. Bila dikonversi secara nominal, angkanya berkisar antara Rp 6-7 juta setiap bulan dan dicatakan dalam tabungan setiap nasabah sesuai jumlah setoran masing masing.
Selain disetor ke bank sampah, pihaknya telah mulai mengembangkan pengolahan sampah anorganik menjadi produk kerajinan. Sejumlah produk kriya yang telah dihasilkan seperti gantungan kunci, pouch ponsel, tali ponsel hingga gelang dari manik-manik yang dibuat dari plastik bekas.
Sedang terkait pengelolaan sampah organik di sekolah dilakukan melalui pengembangan komposter, eco-enzym dan budidaya maggot.
Vera mengungkapkan, secara khusus sekolah telah menjadikan kegiatan komposter menggunakan metode bio-dekomposter dan compost bag, menjadi program kokurikuler bagi siswa Fase A.
"Setelah kompos jadi dalam durasi tiga bulan, program dilanjutkan ke proyek berikutnya, yaitu urban farming," ungkapnya.
Program urban farming di sekolah membuat budidaya sayur dengan sistem vertikal menggunakan pot yang digantung di pagar. Untuk kompos hasil dari pengolahan yang dilakukan sekolah digunakan sebagai media tanam.
Kemudian, sambung Vera, karena sudah menerapkan aturan wajib membawa tumbler dan tidak memperbolehkan murid membawa air minum kemasan plastik ke lingkungan sekolah, pihaknya telah menyediakan mesin Reverse Osmosis (RO).
Seluruh pelajar dan civitas sekolah diperkenankan mengambil minum di mesin pengolah air mentah jadi siap konsumsi yang menggunakan teknologi ioniser itu dengan pilihan dingin, panas maupun normal tanpa dipungut biaya.
Vera menambahkan, berbagai upaya yang dilakukan dalam mewujudkan sekolah zero waste saat ini tidak hanya membuat lingkungan lebih bersih.
Menurutnya, pengelolaan sampah secara baik yang dilakukan selama ini telah memberikan bukti nyata bahwa sampah jika dikelola dengan baik bisa mendatangkan nilai ekonomis.
Untuk itu, ke depan pihaknya sedang mempertimbangkan untuk pengadaan unit mesin yang bisa melelehkan plastik. Nantinya, hasil dari cetakan plastik itu bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan berbagai produk mulai dari rumah tangga, furniture hingga peralatan kantor dan sebagainya.
"Jika bisa mengelolanya sendiri secara mandiri, kami jadi tidak perlu membuang sampah ke luar. Namun harga alatnya lumayan mahal, mudah-mudahan ada yang mau dukung memfasilitasi," harap Vera. (Aji)





