Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah meninjau pengerukan sedimen lumpur Kali Mookervaart, di lingkungan Jalan H Djairi, RT 01 RW 02, Kelurahan Rawa Buaya, Kecamatan Cengkareng, Jumat (11/9).
Pengerukan dilakukan sebagai upaya mitigasi banjir dan genangan, khususnya di wilayah RW 01 Rawa Buaya. Satu unit ekskavator amfibi dikerahkan untuk mengangkat sedimen, sementara puluhan truk disiapkan mengangkut material hasil pengerukan ke wilayah Walungan, RW 07 dan RW 08, Kelurahan Kamal.
Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah menjelaskan, pengerukan merupakan bagian dari program mitigasi banjir dan genangan yang dilakukan secara rutin dan terjadwal di wilayah Jakarta Barat.
"Kita memastikan semua saluran, baik mikro, PHB, dan kali, tidak ada lagi lumpur atau sedimen," tandas Iin.
Pekerjaan di lokasi tersebut ditargetkan rampung dalam satu pekan. "Target kita dalam seminggu ke depan adalah penyelesaian pengerukan sedimen yang berada di sisi kali," ungkap Iin.
Selain pengerukan, sambungnya, juga akan dilakukan pembongkaran sebuah jembatan yang sudah tidak digunakan di lokasi tersebut. Posisi jembatan yang rendah berpotensi menyebabkan sampah tersangkut saat kali meluap.
Kondisi itu dikhawatirkan menghambat aliran air sekaligus menyulitkan alat berat melakukan pengerukan sedimen lumpur kali. Pihaknya berkoordinasi dengan Sudis Bina Marga dan tim teknis Sudis SDA untuk membongkar jembatan tersebut.
"Jembatan itu sekarang sangat rendah dan sudah ditutup sehingga tidak bisa dimanfaatkan lagi. Saat hujan lebat dan debit air kali tinggi, sampah pasti menyangkut di jembatan tersebut," ujar Iin.
Di tempat sama, Kepala Suku Dinas SDA Jakarta Barat, Mustajab, mengungkapkan pengerukan saluran air di Jakarta Barat telah dilakukan secara masif selama setahun terakhir.
Ia menyebut, saat ini terdapat 10 titik yang menjadi fokus pengerukan kali. Salah satunya Kali Mookervaart. Sistem pengerukan dilakukan secara berkelanjutan dengan mengerahkan armada angkut di setiap titik.
"Kalau pimpinan bertanya mana yang sudah selesai, segmen Haji Djairi misalnya, akan kita tuntaskan dalam satu minggu. Setelah selesai, armada akan dipindah ke bagian hilirnya lagi yang belum dikeruk. Kita lakukan secara kontinyu seperti itu," jelas Mustajab.
Ia pun menyebut, secara keseluruhan Sudis SDA Jakarta Barat mengerahkan 30 unit dump truck dan satu alat berat ekskavator amphibi untuk mengangkut material hasil pengerukan.
Material tanah atau lumpur hasil pengerukan tidak dibuang percuma, tapi dimanfaatkan untuk mendukung program perluasan pemakaman di wilayah Walungan, RW 07 dan 08 Kelurahan Kamal, Kecamatan Kalideres.
"Dari pada harus mendatangkan tanah merah yang harganya luar biasa mahal, kita menggunakan tanah kerukan ini untuk pemakaman," pungkasnya. (Aji)





