Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan integrasi data dinilai dapat mendukung upaya penanggulangan kemiskinan di DKI Jakarta agar lebih cepat, akurat, dan tepat sasaran.
Demikian hal tersebut disampaikan Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah, saat kegiatan bedah buku Satu Data Satu Tujuan, AI Sebagai Solusi Kemiskinan Jakarta yang berlangsung di Perpustakaan Jakarta dan Pusat Sastra HB Jassin, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (12/10).
Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah, sekaligus penulis buku tersebut menjelaskan, gagasan yang diangkat berasal dari penelitian disertasinya mengenai model Collaborative Governance AI (CG-AI), yakni kolaborasi tata kelola pemerintahan yang didukung teknologi kecerdasan buatan untuk membantu penanganan kemiskinan.
“AI bukan aktor baru dalam kolaborasi, melainkan teman yang membantu merumuskan, memverifikasi, memetakan, hingga mencari data yang tepat agar program penanggulangan kemiskinan tepat sasaran,” ujarnya saat memeberikan keterangan pada awak media.
Menurut Iin, kemiskinan merupakan persoalan kompleks yang berkaitan dengan berbagai indikator sosial dan ekonomi, termasuk ketimpangan. Karena itu, penanganannya membutuhkan kolaborasi lintas instansi serta pemanfaatan data terpadu.
"Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) telah melakukan pemadanan data lintas instansi, antara lain dari Badan Pusat Statistik (BPS), Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek), Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP), serta Dinas Sosial. Semangat 'Satu Data Indonesia' ini yang ingin kita perkuat implementasinya di wilayah," terangnya.
Ke depan, Iin mendorong pembentukan Desk Kolaborasi dan pengembangan dasbor interaktif untuk mendukung analisis data kemasyarakatan. Sistem tersebut direncanakan memanfaatkan teknologi machine learning guna membaca berbagai indikator, termasuk data penggunaan listrik warga, sebagai salah satu bahan analisis.
“Kami juga membuka ruang bagi akademisi dan perguruan tinggi untuk bersama-sama meneliti dan mengimplementasikan gagasan ini. Pengakhiran kemiskinan membutuhkan perpaduan antara wawasan akademisi dan pengalaman praktisi di lapangan,” katanya.
Kegiatan bedah buku ini menghadirkan para peserta dari unsur kolaborasi pentahelix (akademisi/kampus, pengusaha, pemerintah, komunitas masyarakat, dan media).
Diskusi dipandu Kepala Subbidang Pemuda dan Olahraga Bidang Kesejahteraan Rakyat Bappeda DKI Jakarta, Endiq Yogana. Adapun pembahas yang hadir antara lain Direktur Program Profesi Kepamongprajaan IPDN, Prof. Dr. Hyronimus Rowa, M.Si.; dosen dan peneliti Universitas Komputer Indonesia (Unikom) Bandung, Dr. Olih Solihin, S.Sos., M.I.Kom.; serta Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Esa Unggul, Dr. Ballian Siregar, S.Sos., M.Si. (Hfz)






