Suku Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (Kominfotik) Jakarta Barat menggelar sosialisasi Ngobrol Statistik (Ngorbit) bertema “Cerdas Membaca Data, Memahami Statistik di Era Digital”, secara daring yang diikuti sebanyak 571 peserta dari unsur ASN Pemkot Jakarta Barat dan masyarakat.
Kegiatan ini menghadirkan Presiden Data Science Indonesia, Nabil Muhsin Bajri, sebagai narasumber untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya membaca, memahami, dan memanfaatkan data statistik secara tepat di tengah pesatnya perkembangan informasi digital.
Kepala Seksi Aplikasi dan Statistik (Astik) Suku Dinas Kominfotik Jakarta Barat, Nur Izzuddin mengatakan, kegiatan Ngorbit dikemas dalam bentuk diskusi ringan agar materi statistik yang selama ini dianggap rumit dapat lebih mudah dipahami masyarakat.
“Melalui Ngorbit, kita mencoba membahas statistik dengan lebih ringan. Selama ini statistik sering diasumsikan sebagai sesuatu yang rumit dan sulit dimengerti,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (15/10).
Dilanjutkannya, pemahaman statistik semakin penting di era digital lantaran masyarakat setiap hari terpapar berbagai data dan grafik yang beredar melalui media sosial, situs web, maupun platform digital lainnya.
Namun, tidak semua informasi yang disajikan berdasarkan sumber tepercaya atau menggambarkan kondisi sebenarnya. Bahkan, perubahan skala pada grafik dapat memengaruhi cara pembaca menafsirkan suatu data.
Karena itu, Ia mengimbau masyarakat perlu lebih cermat dalam memeriksa sumber dan cara penyajian data sebelum menggunakannya sebagai dasar untuk menarik kesimpulan.
“Jangan langsung percaya terhadap data-data yang tersebar di dunia digital. Perlu diverifikasi kembali, apakah berasal dari sumber resmi dan apakah cara penyajiannya sudah sesuai kaidah, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman atau kesimpulan yang keliru,” jelasnya.
Ia menambahkan, pemahaman tersebut sejalan dengan pentingnya penerapan prinsip Satu Data, yakni penggunaan data yang telah diverifikasi dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai acuan informasi.
Selain itu, ia juga mengapresiasi antusiasme peserta yang mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, jumlah peserta yang mencapai 571 orang menunjukkan bahwa pembahasan statistik tetap mendapat perhatian meskipun materinya dinilai cukup kompleks.
"Kami berharap wawasan ASN dan masyarakat mengenai literasi data semakin meningkat, sehingga mereka mampu memahami informasi statistik secara kritis dan menghindari kesalahan dalam menafsirkan data di era digital," tandasnya. (Izu)






