Kecamatan Cengkareng menerapkan program pemanfaatan teknologi nyamuk ber-Wolbachia sebagai salah satu upaya menekan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah tersebut.
Camat Cengkareng, Suhardin, mengatakan program tersebut mencakup enam kelurahan dengan target penempatan 7.452 Egg Release Container (ERC) atau wadah pelepasan telur nyamuk ber-Wolbachia. Pelaksanaannya melibatkan 1.093 kader kesehatan di tingkat wilayah.
“Hingga saat ini, capaian penempatan ERC secara keseluruhan di tingkat kecamatan telah mencapai 98 persen dari total target yang ditetapkan,” ujar Suhardin sesuai keterangan yang diterima, Selasa (29/9).
Menurutnya, program tersebut menjadi salah satu langkah strategis karena Cengkareng termasuk wilayah dengan jumlah kasus DBD yang cukup tinggi di Jakarta Barat. Sepanjang 2025, tercatat 1.154 kasus atau sekitar 198 kasus per 100.000 penduduk.
Salah satu wilayah yang menjadi lokasi percontohan adalah Kelurahan Kapuk. Implementasi program di wilayah tersebut dimulai pada September 2026, dengan kondisi geografis dataran rendah yang memiliki sejumlah titik genangan dan persoalan drainase.
“Di Kelurahan Kapuk, wilayah operasional dibagi menjadi 1.713 grid ERC, terdiri atas 1.214 grid di area permukiman warga dan 499 grid untuk fasilitas publik serta area sosial,” jelasnya.
Berdasarkan evaluasi dan quality control (QC) terhadap lima persen sampel ERC di Kelurahan Kapuk, tingkat keberhasilan ERC pada tahap Service 1 tercatat 78 persen. Sementara itu, 22 persen lainnya mengalami kendala.
Dari hasil evaluasi tersebut, kendala yang ditemukan antara lain perubahan warna air pada wadah dan pupa yang tidak berkembang, masing-masing sebesar 31 persen. Kemudian, wadah hilang, tumpah, atau terbuang sebesar 20 persen dan gangguan hama sebesar 16 persen.
Sementara dalam kunjungan lapangan di RW 11 Kelurahan Kapuk, tercatat 102 pemegang ERC dan 16 kader aktif yang melakukan pemantauan program. Suhardin menyebut penerimaan masyarakat terhadap program tersebut berada pada kategori sedang hingga tinggi.
“Antusiasme dan tingkat penerimaan warga di kawasan tersebut cukup positif, berada pada kategori sedang hingga tinggi,” tuturnya.
Suhardin menegaskan, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh jumlah ERC yang telah ditempatkan. Pemeliharaan wadah, pemantauan berkala oleh kader, serta partisipasi masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program.
“Keberlanjutan dan keberhasilan jangka panjang program Wolbachia tidak hanya bergantung pada penempatan wadah, tetapi juga efektivitas pemeliharaan, keaktifan kader dalam pemantauan berkala, serta partisipasi dan kepedulian seluruh lapisan masyarakat,” pungkasnya.






