Hasil penjangkauan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang dilakukan Suku Dinas Sosial Jakarta Barat sejak Januari hingga awal Oktober 2026 didominasi gelandangan, dengan jumlah mencapai 414 orang.
Berdasarkan data rekapitulasi Pelayanan, Perlindungan dan Pengendalian PMKS Jalanan Sudin Sosial Jakarta Barat, jenis PMKS terbanyak berikutnya adalah psikotik/ODMK sebanyak 330 orang, pak ogah 184 orang, pengemis 67 orang, dan pengamen 58 orang.
Selanjutnya, tercatat 21 pemulung, 15 pedagang asongan, enam anak jalanan, tiga tukang pijat, satu wanita, serta 278 orang yang masuk kategori PMKS lainnya.
“Adapun total hasil penjangkauan dari Januari hingga minggu pertama Oktober 2026 di wilayah Jakarta Barat sebanyak 1.377 orang PMKS,” kata Kepala Sudin Sosial Jakarta Barat, Fajar Laksono, saat dikonfirmasi, Rabu (14/10).
Ia menjelaskan, penjangkauan dilakukan sebagai bagian dari pelayanan dan penanganan PMKS jalanan agar mereka memperoleh penanganan sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Satuan Tugas Pelayanan, Pengawasan dan Pengendalian Sosial (P3S) di sejumlah titik yang rawan keberadaan PMKS. Lokasi penjangkauan antara lain kawasan Flyover Tomang, Slipi, Grogol, Jembatan Dua, Cengkareng, Terminal Kalideres, hingga sekitar Kota Tua.
Dari data bulanan yang dihimpun, penjangkauan PMKS tercatat sebanyak 143 orang pada Januari, 203 orang pada Februari, 139 orang pada Maret, 168 orang pada April, 160 orang pada Mei, 137 orang pada Juni, 169 orang pada Juli, 133 orang pada Agustus, dan 120 orang pada September. Sementara itu, hingga 5 Oktober 2026, tercatat lima orang telah dijangkau. (Aji)





