Pemerintah Kota (Pemkot) Administrasi Jakarta Barat bersinergi dengan semua stakeholder untuk mewujudkan dalam penguatan program Kota Sehat dan Kota Layak Anak (KLA) supaya berjalan optimal untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Demikian disampaikan Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah saat memimpin Rapat Penyusunan Rencana Penguatan Pelaksanaan Kegiatan Kota Sehat dan Kota Layak Anak di Ruang Rapat Asisten Administrasi Kesejahteraan Rakyat (Adkesra), Kantor Wali Kota Jakarta Barat, Kembangan, Rabu (14/1).
Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah mengatakan bahwa program Kota Sehat dan Kota Layak Anak merupakan satu kesatuan isu strategis yang tidak dapat dipisahkan. Menurutnya, kota yang layak adalah kota yang sehat dan ramah anak, serta ke depan juga harus ramah bagi lansia dan penyandang disabilitas sebagai bagian dari visi Jakarta Barat menuju kota global.
“Ketika kita bicara kota yang layak, itu adalah kota yang sehat dan kota layak anak. Ke depan, konsep kota sehat, kota layak, kota ramah anak, lansia, dan disabilitas harus disiapkan secara komprehensif,” ujarnya didampingi Asisten Kesejahteraan Rakyat (Askesra) Kota Administrasi Jakarta Barat, RM Amien Haji bersama kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait lainnya.
Dikatakan Iin, pihaknya memperkuat sinergi dan kerja sama lintas sektor dalam menyukseskan dua program strategis, karena keberhasilan tidak dapat dicapai oleh satu perangkat daerah saja, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif OPD secara komprehensif. Menurut Iin, capaian prestasi dan penghargaan di tingkat pusat sejatinya hanya bersifat penguatan secara simbolis dan implementasi program yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Nilai yang paling penting adalah yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Jika urusan kesejahteraan rakyat tidak optimal, maka akan menurunkan kepercayaan dan penghargaan masyarakat kepada pemerintah,” tegasnya.
Lebih lanjut, Iin menjelaskan ada beberapa aspek mulai dari pemetaan indikator penilaian, kesiapan data dan dokumentasi pendukung, hingga langkah-langkah strategis yang harus dilakukan OPD. Ia menuturkan, halnya rapat juga menjadi wadah untuk menyamakan persepsi serta memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan lingkungan kota yang sehat, aman, dan ramah anak.
Selain itu, Iin mengungkapkan agar perencanaan pembangunan tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik yang mudah diukur dan terlihat hasilnya dalam waktu singkat. Menurutnya, membangun perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta membentuk budaya kota sehat membutuhkan proses panjang dan kerja bersama.
“Membangun perilaku dan budaya hidup sehat itu tidak mudah. Ini membutuhkan strategi yang sinergis dan gotong royong. Saya tidak ingin teman-teman bekerja sendiri-sendiri, semua harus bersama,” ujarnya.
Iin menambahkan, salah satunya program Open Defecation Free (ODF) tidak cukup hanya dideklarasikan secara seremonial, tetapi harus diikuti dengan perencanaan yang rinci dan pelaksanaan yang berkelanjutan.
“Bukan hanya deklarasi. Kita harus rinci kebutuhannya dan kerjakan bersama-sama agar hasilnya benar-benar nyata,” pungkasnya. (Wan)





