Pemerintah Kota (Pemkot) Administrasi Jakarta Barat mengoptimalkan urban farming di rooftop Gedung C Kantor Wali Kota Jakarta Barat sebagai ruang produktif dan edukatif untuk mendukung ketahanan pangan keluarga.
Hal tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Pengelolaan Urban Farming Rooftop di Ruang Rapat Wakil Wali Kota Jakarta Barat, Selasa (22/9). Rapat digelar sebagai tindak lanjut Instruksi Sekretaris Daerah Nomor 40 Tahun 2026 tentang Gerakan Tanam Pangan Pendamping Beras untuk Ketahanan Pangan Keluarga di DKI Jakarta.
Kepala Bagian Perekonomian Jakarta Barat, Budiono Santoso, mengatakan kawasan rooftop lantai 7 Gedung C tidak hanya digunakan sebagai lokasi pencanangan, tetapi dikembangkan menjadi lahan pertanian perkotaan yang produktif dan berkelanjutan.
βLahan di atas Gedung C ini kita rancang bukan sekadar lokasi pencanangan, tetapi dikembangkan menjadi ruang yang berkelanjutan, produktif, edukatif, serta menjadi contoh nyata pemanfaatan lahan perkotaan guna mendukung ketahanan pangan keluarga di Jakarta,β ujar Budiono.
Sejumlah komoditas dikembangkan di kawasan tersebut, mulai dari jagung, ubi jalar, singkong, labu madu, porang, hingga sayuran seperti kangkung, pakcoy, bayam, oyong, terong, selada, cabai, dan bawang merah. Selain itu, terdapat tanaman buah seperti pisang dan golden melon serta budidaya ikan lele.
Pengelolaan urban farming melibatkan lintas perangkat daerah, termasuk Sudin KPKP, Bina Marga, SDA, Pertamanan dan Hutan Kota, PPKUKM, Lingkungan Hidup, serta TP PKK Jakarta Barat.
Pihak Pemkot Jakarta Barat juga menyiapkan pembenahan sejumlah fasilitas pendukung, seperti sistem penyiraman, jaringan listrik kolam lele, drainase, hingga strategi pemasaran hasil panen.
Ke depan, hasil panen tidak hanya dimanfaatkan untuk internal pegawai dan PKK, tetapi juga akan dipasarkan melalui komunitas digital dan bazar. Kawasan tersebut juga direncanakan menjadi sarana edukasi bagi pelajar serta pelatihan bagi pegawai menjelang masa pensiun. (Hfz)





