Warga Kelurahan Taman Sari, Srengseng, dan Sukabumi Utara, Jakarta Barat, menyambut positif keterlibatan wilayah mereka dalam ajang Benyamin S Award (BSA) 2026. Warga berharap perubahan lingkungan yang telah dilakukan dapat membawa hasil terbaik.
Nurhayati, warga RT 10/RW 02 Kelurahan Taman Sari, mengaku senang wilayahnya masuk dalam 10 finalis BSA 2026. Menurutnya, kondisi Taman Sari kini semakin aman, bersih, dan tertata.
Ia mengatakan hubungan antarwarga juga terjalin harmonis. Selain itu, gerakan pemilahan sampah dari sumber turut membuat lingkungan lebih bersih sekaligus memberikan manfaat ekonomi melalui bank sampah di tingkat RW.
"Adanya bank sampah RW menambah ekonomi juga karena warga bisa dapat uang dari mengumpulkan sampah. Kami berharap Taman Sari bisa masuk tiga besar agar warga semakin semangat membenahi lingkungan," kata Nurhayati.
Sementara itu, Ketua RW 06 Kelurahan Srengseng, Abdul Rojak, mengatakan lingkungannya mengalami perubahan secara bertahap. Taman dan jalan lingkungan yang sebelumnya kurang terawat kini telah ditata sehingga terlihat lebih rapi dan bersih.
"Dengan adanya Benyamin S Award, semua itu ada hikmahnya. Lingkungan jadi tertata dan warga bertambah semangat mendukung untuk merapikan lingkungan," ujarnya.
Perubahan lingkungan juga memberikan dampak ekonomi bagi warga. Abdul menyebut urban farming di RT 06/RW 06 dikembangkan menjadi produk UMKM berupa dodol dan puding berbahan labu madu yang kemudian dipasarkan kepada masyarakat.
Senada juga dengan Ketua RW 08 Sukabumi Utara, Matroji, mengatakan warga bangga wilayahnya masuk nominasi BSA 2026. Menurutnya, penataan lingkungan dilakukan bukan semata-mata untuk menghadapi penilaian, melainkan tumbuh dari kesadaran warga.
"Kami sebenarnya tidak mempersiapkan khusus untuk lomba ini karena warga di RW 08 memang sudah cinta tanaman hias," kata Matroji.
Ia menjelaskan, kawasan RW 08 yang sebelumnya padat dan kurang tertata mulai dibenahi secara bertahap. Pengurus RW bersama kader jumantik dan dasawisma menata Jalan Yakub dengan tanaman dalam pot sekaligus mengelola sampah. Upaya tersebut kemudian mendorong warga lain untuk ikut menjaga kebersihan dan menghijaukan lingkungan.
"Kami berubah. Pertama yang kita tata lingkungan Jalan Yakub, Kita buat tanaman dari pot. Kemudian kami olah sampah di situ. Dari situ, warga senang melihatnya hingga timbul kesadaran sendiri untuk mengikuti," ujarnya. (Why)





