Wakil Wali Kota Jakarta Barat, Ali Murtadho mengapresiasi persiapan Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Taman Sari menjelang penilaian 10 besar peraih Benyamin S Award (BSA) Tahun 2026.
"Komentarnya positif. Pak wakil wali kota mengapresiasi, mudah-mudahan berpeluang juara. Karena semua yang dipaparkan oleh saya merupakan hasil karya (produk) garapannya," tutur Lurah Taman Sari, Abdul Malik Raharusun saat dikonfirmasi, Jumat (2/10).
Demikian disampaikan saat rapat persiapan penilaian 10 besar Benyamin S Award 2026 yang dimonitor langsung Wakil Wali Kota Jakarta Barat, Ali Murtadho, beserta sejumlah pejabat di lingkungan Pemkot Jakarta Barat.
Dilanjutkan Abdul Malik, dalam paparan BSA Tahun 2026, dirinya menyampaikan sejumlah produk hasil garapannya. Satu diantaranya, rumah pilah sampah RW 01. Rumah pilah sampah berisi bank sampah "Go green", urban farming, magotisasi, lubang biopori dan lubang Teba.
Selain rumah pilah, Wakil Wali Kota juga mengapresiasi empat kategori penilaian BSA Tahun 2026, di kelurahan Taman Sari.
"Dari empat kategori yang saya paparkan, wakil wali kota Jakbar menilai dua kategori yakni nyaman dan sejahtera menjadi kekuatan karena memenuhi syarat lomba BSA. Kategori nyaman, yakni kelurahan Taman Sari sudah deklarasi ODF dan tidak ada RW kumuh. Kemudian ada RW dengan lingkungan padat penduduk yang diatasi dengan 3 balai warga. 3 Balai Warga yakni di lingkungan RW 07, RW 04 dan RW 03," jelasnya.
Untuk deklarasi ODF (Open Defecation Free), lanjut Abdul Malik, pihaknya telah membangun 22 WC umum yang tersebar di sejumlah RW.
"Kalau kategori sejahtera, kami menampilkan sejumlah potensi pariwisata. Tadi juga saya paparkan website pariwisata kelurahan Taman Sari. Wakil Wali Kota juga apresiasi dan minta nanti untuk dipaparkan kembali saat penilaian lomba BSA Tahun 2026," ujarnya.
Hal lain yang dimonitor Wakil Wali Kota Jakbar, Ali Murtadho, terkait penyelenggaraan pesta budaya yang digelar rutin setiap tahun.
"Tadi saya paparkan juga terkait festival budaya. Karena Taman Sari memiliki keanekaragaman budaya. Dulu saat era kolonial Hindia Belanda, Taman Sari terkotak-kotak berdasarkan asal dan latar belakang budaya, seperti Eropa di Pinangsia,Tionghoa di Glodok, kemudian Arab di wilayah Krukut, Jawa di wilayah Keagungan, India di wilayah Tangki," tambahnya. (why)





