Pemerintah Kota (Pemkot) Administrasi Jakarta Barat menyiapkan TPS 3R Meruya Selatan sebagai percontohan pengelolaan sampah berbasis pemilahan dan pengolahan dari sumber.
Persiapan tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Pembentukan TPS 3R Percontohan Kelurahan Meruya Selatan di Kantor Wali Kota Jakarta Barat, Rabu (9/9). Rapat membahas penguatan sistem mulai dari pemilahan, pengangkutan terjadwal, hingga pengolahan sampah di TPS 3R.
Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah mengatakan TPS 3R Meruya Selatan telah mendapat persetujuan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta untuk menjadi role model pengelolaan sampah di Jakarta Barat.
“Alhamdulillah Pak Gubernur dan Pak Wagub menyetujui bahwa ini menjadi role model di Jakarta Barat, khususnya TPS 3R percontohan,” ujar Iin.
Iin mengatakan pembentukan TPS 3R percontohan diperlukan karena pengelolaan di sejumlah TPS 3R belum optimal. Berdasarkan hasil monitoring terhadap lima TPS 3R, kapasitas pengelolaan baru mencapai sekitar 5 hingga 40 persen, sementara targetnya 70 persen sampah dapat diselesaikan dari sumber atau di TPS 3R.
“Warga Jakarta Barat harus bisa memilah dulu. Pemilahan harus terjadi di semua sumber,” tegasnya.
Sebagai tahap awal, gerakan pemilahan sampah akan diterapkan mulai 1 Oktober 2026 di empat kelurahan, yakni Meruya Selatan, Meruya Utara, Joglo, dan Srengseng. Sampah yang masuk ke TPS 3R juga harus sudah dalam kondisi terpilah.
Selanjutnya, pengangkutan akan dilakukan secara terpisah berdasarkan jenis sampah dan terjadwal. TPS 3R Meruya Selatan juga akan ditata dengan SOP, sarana pengolahan, penataan lingkungan, serta pengembangan area urban farming dan edukasi.
Pengembangan TPS 3R tersebut akan melibatkan perguruan tinggi, masyarakat, dan penggiat lingkungan. Pemkot Jakarta Barat berharap model ini dapat direplikasi di wilayah lain sekaligus mengurangi volume sampah residu yang dikirim ke TPST Bantargebang.
“Komitmen, kolaborasi dan konsisten akan menentukan Gerakan Pilah dan Olah Sampah sukses dan bermanfaat,” pungkasnya. (Lam)





