Suku Dinas Komuniaksi Informasi dan Statistik (Kominfotik) Jakarta Barat menggelar kegiatan sosialisasi pencegahan judi online (Judol) di Aula SMKN 53 Jakarta, Kelurahan Cengkareng Barat, Kecamatan Cengkareng, Selasa (23/9).
Kepala Suku Dinas Kominfotik Jakarta Barat, Andrie Yuswanto, mengatakan sosialisasi ini menjadi penting untuk pencegahan bagi pelajar supaya tidak mudah terpengaruh oleh perkembangan teknologi.
“Kegiatan sosialiasi ini sebaiknya rutin dilakukan karena Gen Z ini menguasai teknologi ya, jadi mudah terpengaruh sama teknologi. Makanya sosialisasi ini penting banget dilakukan supaya anak-anak lebih bijak dalam menggunakan internet,” ujarnya.
Senada dengan itu, Kepala Seksi Aplikasi Siber dan Statistik (Astik) Sudis Kominfotik Jakarta Barat, Nur Izzudin, menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan kesadaran pelajar terhadap bahaya judi online dan diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para peserta, mengingat maraknya praktik judi online (Judol).
“Tujuan dari kegiatan sosialisasi internet sehat dan waspada judol sebenarnya lebih ke peningkatan awareness kepada siswa siswi SMA SMK, karena Jakarta Barat termasuk tertinggi kasusnya. Jadi kami ingin berkontribusi untuk menurunkan tingkat pengguna judol melalui langkah preventif ini,” jelasnya.
Ditempat yang sama, Kepala Sekolah SMKN 53 Jakarta, Pudji Sumaryanto mengapresiasi kegiatan tersebut karena judi online dinilai semakin marak di kalangan pelajar. Ia menjelaskan bahwa siswa sudah mulai mengenal praktik tersebut sejak SMP dan hal ini perlu dicegah agar tidak berkembang menjadi kebiasaan yang merugikan.
“Mengenai judol itu, anak-anak sudah mengenal sejak SMP, tapi marak-maraknya sekarang. Diawali dari permainan online itu lalu akhirnya ke judol. Makanya kita harus melakukan langkah pencegahan supaya anak tidak terpengaruh dengan judol ini. Jadi yang dilakukan oleh Kominfotik itu bagus biar anak itu tahu bahaya judol itu,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ia berharap kegiatan sosialiasi ini bisa diperluas ke tingkat SMP serta adanya pendampingan bagi siswa yang sudah terdeteksi kecanduan judi online (Judol).
“Mungkin bisa ada cara dari sisi psikologis. Karena sekolah tidak bisa memantau siswa 24 jam. Kami berharap Dinas Pendidikan DKI bisa memetakan siapa saja siswa yang sudah terdeteksi, dan mudah-mudahan kegiatan judi online berkurang,” tambahnya.
Sementara itu, Shafira (14), salah satu peserta mengaku kegiatan tersebut bermanfaat karena memberikan pemahaman baru terkait bahaya judi online di kalangan pelajar
“Sosialisasi ini bener-bener bermanfaat, apalagi tadi dijelaskan kalau ini usaha preventif dari pemerintah untuk mencegah bahaya situs judol. Penyampaiannya jelas dan informatif lewat contoh-contoh berita, jadi cukup komunikatif buat kita mengerti,” ucapnya.
Untuk informasi, kegiatan yang diinisiasi Suku Dinas Kominfotik Jakarta Barat sebagai upaya mencegah maraknya pinjaman online (pinjol), khususnya di Jakarta Barat yang yang mencapai sekitar 4.300 anak, mulai usia 10–20 tahun. Acara ini diikuti oleh sekitar 96 peserta siswa kelas 10, Kepala Sekolah, Wakil Kesiswaan, dan Guru.
Menghadirkan narasumber dari Seksi Aplikasi Siber dan Statistik (Astik) Sudis Kominfotik Jakarta Barat, Rangga yang membawakan materi “Internet Sehat” serta Nur Izzudin dengan materi “Judi Online”. Pada kesempatan tersebut juga diperkenalkan Dashboard Security Awareness yang berisi video, infografis, modul, dan self-assessment terkait keamanan siber yang bisa diakses para siswa. (Wan)






