Sebanyak 180 personel gabungan Kecamatan Tambora melaksanakan kerja bakti membersihkan sedimen lumpur dan sampah saluran penghubung (Phb) di depan Pasar Mitra, Kelurahan Jembatan Lima, Kecamatan Tambora, Minggu (11/4).
Camat Tambora, Pangestu Aji menuturkan, kondisi saluran Phb depan Pasar Mitra mengalami pendangkalan dan dipenuhi sampah. Bahkan, ke dalam saluran yang idelnya mencapai 2 meter, saat ini sudah tertutup sedimen lumpur.
"Saluran ini panjangnya kurang lebih 450 meter dengan lebar sekitar empat meter. Kedalaman idealnya dua meter, tetapi saat kami turun ke dalam saluran, airnya tidak sampai menenggelamkan karena sudah dipenuhi sampah dan lumpur," ujarnya.
Lebih lanjut, Pengestu Aji menjelaskan, kerja bakti yang dilaksanakan serentak di wilayah Jakarta Barat, difokuskan pada pembersihan saluran sebagai bagian upaya mitigasi banjir.
"Tambora bukan wilayah yang sering kebanjiran, tapi saat hujan memang masih ada genangan di beberapa titik. Untuk itu, saluran Phb harus dijaga agar tetap bersih dan berfungsi optimal," jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Pangestu Aji juga sedang menggencarkan program TAMPAN yang merupakan akronim dari Tambora Tertib, Aman, Mandiri, Peduli, Asri dan Nyaman).
"Program ini mencakup Tertib Trotoar dan PMKS, Tertib Listrik atau Operasi penertiban listrik (OPAL) serta antisipasi kebakaran, Tertib saluran, Jalan, Penerangan Lampu, Tertib Sampah dan Tertib Usaha, serta Tertib Kamtibmas dan Kesehatan," ungkapnya.
Mengenai masalah sampah, Pangestu Aji menuturkan bahwa persoalan sampah menjadi tantangan di wilayahnya. Berdasarkan data dari Sudis Lingkungan Hidup Jakarta Barat, sekitar 70 persen sampah di Kecamatan Tambora, merupakan sampah residu.
"Meski begitu kami terus mengedukasi masyarakat agar memilah sampah dari sumbernya. Sampah organik bisa diolah menjadi pupuk, sementara sampah anorganik dapat dimanfaatkan melalui bank sampah atau program 3R (reduce, reuse, recycle)," jelasnya.
Ia menyampaikan, pihaknya juga sedang menjajaki kerja sama pengelolaan limbah minyak jelantah dengan pihak swasta untuk mengurangi volume sampah residu rumah tangga.
"Semoga kesadaran warga juga terus meningkat. Sebab, upaya menjaga lingkungan yang bersih menjadi tanggung jawab bersama," ucapnya.
Di tempat yang sama, anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Husen Ishaq menyebut, kondisi saluran air depan Pasar Mitra, sudah lama tidak tertangani secara optimal. Berdasarkan hasil peninjauan lapangan, bagian hulu saluran diperkirakan tidak dibersihkan selama sekitar 16 hingga 17 tahun.
"Sedimennya hampir mencapai dua meter. Jika pengerukan dilakukan secara menyeluruh, prosesnya bisa memakan waktu berbulan-bulan dan harus dilakukan secara bertahap," imbuhnya.
Volume sampah yang diangkut dari hasil kerja bakti, lanjut Husen, mencapai ratusan karung. Ia pun menekankan pentingnya perawatan rutin saluran agar permasalahan serupa tidak kembali terjadi.
"Kalau perawatan dilakukan secara berkala, misalnya setiap minggu atau setiap bulan, kondisi seperti ini tidak akan terulang. Saluran harus tetap difungsikan dan tidak boleh ditutup," tambahnya. (why)






