Sebanyak 50 peserta mengikuti bimbingan teknis (Bimtek) Desa Siaga Bencana yag diinisiasi PT PLN melalui Unit Pelaksana Transmisi (UPT) Duri Kosambi bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) DKI Jakarta dan Yayasan Global Care Network (YGCN) di Aula Kantor Kelurahan Kembangan Selatan, Jumat (11/9).
Kegiatan tersebut diisi bimbingan teknis peningkatan kapasitas masyarakat serta penyerahan bantuan sarana dan perlengkapan untuk mendukung upaya pengurangan risiko bencana.
Camat Kembangan, Muhammad Fahmi Karsawijaya mengapresiasi program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN tersebut. Menurutnya, keberadaan FPRB di Kembangan Selatan dapat menjadi percontohan bagi wilayah lain.
“Saya kira kehadiran PLN merupakan langkah yang baik dan tepat. Dua wilayah ini nantinya diharapkan bisa menjadi pilot project untuk wilayah kelurahan yang lain,” ujar Fahmi.
Ia meminta kelembagaan FPRB terus diperkuat agar masyarakat memiliki kesiapan menghadapi bencana, mulai dari tahap prabencana, saat bencana, hingga pascabencana. Pelatihan juga dinilai penting untuk menyempurnakan mitigasi, termasuk penentuan titik kumpul dan pemetaan lokasi rawan banjir.
Sementara itu, Manajer PLN UPT Duri Kosambi, Taufik Rossal Sukma, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari TJSL PLN untuk mendukung program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam pengurangan risiko bencana. Kolaborasi dengan FPRB diharapkan dapat membentuk masyarakat yang tangguh, mandiri, mampu melakukan evakuasi secara mandiri, serta memahami sistem peringatan dini.
"Kegiatan ini bertujuan mendukung program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam pengurangan risiko bencana," katanya.
Dalam kegiatan tersebut, PLN menyerahkan sejumlah bantuan, di antaranya perahu beserta perlengkapan keselamatan, rambu evakuasi dan titik kumpul, plang Kelurahan Tangguh Bencana, perlengkapan dapur umum, tenda, tambang evakuasi, lampu darurat, mesin penyedot air, rompi, serta tas siaga bencana.
Di sisi lain, Ketua FPRB DKI Jakarta, Ahmad Lukman menambahkan, kegiatan selama dua hari itu diikuti 50 peserta dari unsur RW, Dasawisma, PKK, PPSU, Satpol PP, BPBD, dan penyandang disabilitas. Peserta mendapatkan materi mengenai dasar-dasar pengurangan risiko bencana, analisis risiko, hingga penyusunan rencana aksi.
"Kegiatan yang berlangsung selama 2 hari diisi dengan bimbingan teknis. Warga dibekali pemahaman dasar pengenai pengurangan resiko bencana, analisis resiko hingga penyusunan rencana aksi," ujarnya. (why)





