Sebanyak 30 anggota Kesatuan Program Studi Ilmu Pemerintahan Seluruh Indonesia (KAPSIPI) mengikuti fun trip ke kawasan Pecinan Glodok, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat, Senin (19/10).
Kegiatan ini bertujuan mengenal potensi wisata budaya sekaligus mempelajari tata kelola kawasan bersejarah. Para peserta mengunjungi sejumlah destinasi, di antaranya Wihara Dharma Bhakti, Gereja Santa Maria de Fatima (Toasebio), dan Gold Dragon Coffee.
Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah, menyambut kegiatan tersebut dan menyebut Pecinan Glodok sebagai salah satu kawasan wisata bersejarah yang menjadi kebanggaan Jakarta Barat.
"Salah satu yang dikenal kalo wisata di sini adalah kuliner. Di sini banyak macam kuliner legendaris. Kami bersyukur bahwa salah satu wilayah Jakarta Barat memiliki heritage, yang sampai saat ini kita rawat dengan baik," ujarnya.
Iin mengatakan, Glodok dikenal sebagai pusat perdagangan, kebudayaan Tionghoa, dan kuliner legendaris. Kawasan ini juga masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2022 yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
"Ini menjadi PR kita serta dukungan dari Kelompok Sadar Wisata, yang tentunya mengetahui secara jelas karakteristik kawasan ini," tukasnya.
Lebih lanjut ia menambahkan, Pemkot Jakarta Barat, terus berupaya menata kawasan, terutama terkait perparkiran dan pedagang kaki lima, dengan melibatkan kelompok sadar wisata.
"Tinggal mau kemana arahnya, UMKM boleh, pengembangan wisata juga boleh, atau bagaimana menguatkan perilaku sadar wisata, karena juga butuh masukan dari kelompok masyarakat sadar wisata untuk menjadikan wisata yang berkelanjutan," jelasnya.
Sementara itu, Ketua rombongan KAPSIPI, Dewi Kurniasih, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian seminar nasional dan rapat kerja KAPSIPI bersama Asosiasi Dosen Ilmu Pemerintahan Seluruh Indonesia (ADIPSI).
"Kami melakukan kegiatan ini bukan sekadar untuk wisata, tapi juga menjadi living laboratory ilmu pemerintahan. Karena pesertanya ini sebagian mewakili daripada anggota KAPSIDI dan ADIPSI yang merupakan perkumpulan dari ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan seluruh Indonesia dan para dosen ilmu pemerintahan seluruh Indonesia," ujarnya.
Menurut Dewi, kunjungan ini tidak sekadar wisata, tetapi juga menjadi living laboratory bagi akademisi untuk mempelajari sejarah, toleransi, akulturasi budaya, ketahanan sosial, serta pengembangan ekonomi kreatif masyarakat.
"Sehingga kami bisa mengetahui dari sisi sejarah, kemudian tempat-tempat objek wisata yang merupakan bukti adanya model kolaboratif governance yang menggambarkan toleransi yang hidup bukan hanya sekadar di buku-buku teks begitu ya," jelasnya.
Pihaknya berharap kunjungan tersebut dapat menghasilkan masukan bagi penataan kawasan Pecinan Glodok, termasuk pengelolaan parkir, penataan kabel, dan pedagang kaki lima, sehingga kawasan bersejarah itu semakin nyaman dan mampu mendukung pariwisata berkelanjutan. (Why)





