Perumda Air Minum Jaya (PAM Jaya) menepis tudingan proyek galian di Jalan Peta Selatan, Kalideres, Jakarta Barat terbengkalai karena tidak adanya aktivitas pekerjaan fisik.
Menurut Senior Manager Corporate & Customer Communication PAM Jaya, Gatra Vaganza, tidak adanya pekerjaan fisik di lokasi galian karena pengerjaannya menggunakan metode pengeboran bawah tanah atau 'jacking'.
"Karena kita ngedorong pipanya tuh pakai model 'jacking' namanya. Karena kalau saat ini di Jakarta sudah tidak boleh lagi metode 'open cut', yang dibelah dibuka semua sepanjang jalan," ungkap Gatra saat dihubungi wartawan, Rabu (4/3).
Dijelaskan Gatra, lubang galian dibiarkan terbuka sebagai penanda kesesuaian jalur pipa-pipa yang terpasang.
"Jadi pit-pit galian itu untuk ngelihat pipa-pipa yang ditusuk lewat bawah tanah itu sudah benar jalurnya. Jadi kalau kita lewat situ, kasat mata itu terlihat enggak ada pekerjaan. Ya memang enggak ada pekerjaan di atasnya. Jadi bak itu (lubang), cuman sebagai bak kontrol," kata Gatra.
Ia menambahkan, jika menggunakan metode "open cut", maka pekerjaan akan dilakukan dengan membelah jalanan sepanjang jalur pengerjaan, yang tentunya akan berdampak masif pada lalu lintas di lokasi.
"Kalau pakai metode 'open cut', saya ilustrasikan misalnya ada pemasangan pipa dari Monas ke Bundarah HI. Kalau 'open cut' berarti akan banyak pembongkaran jalan dan itu akan macet parah, mengganggu lalu lintas," sambungnya.
Sebaliknya, lanjut Gatra, metode "jacking" hanya memerlukan titik-titik lubang tertentu untuk mendorong dan memantau pemasangan pipa dari satu ujung ke ujung lainnya di bawah tanah.
Oleh karena itu, lubang-lubang galian yang menganga di Jalan Peta Selatan saat ini sebenarnya berfungsi sebagai bak kontrol untuk memantau pergerakan pipa di bawah tanah, bukan area utama pengerjaan fisik.
"Nah, lubang-lubang itu sebenarnya buat ngelihat pipanya itu lurus atau enggak, sesuai apa enggak. Nah, makanya kalau orang-orang lewat situ ngelihat, pasti kesannya jadi 'ada lubang doang tapi enggak ada yang kerja'. Ya memang enggak ada yang kerja di atas karena itu untuk mantau," ungkap Gatra.
Meski demikian, ia tidak menampik bahwa penyelesaian proyek di kawasan tersebut memang mengalami kemunduran dari target yang telah ditetapkan. Awalnya, pengerjaan galian pipa air bersih yang dimulai pada November 2025 ini ditargetkan rampung pada Februari 2026 lalu. Namun, target penyelesaian tersebut terpaksa diundur menjadi bulan April 2026 mendatang.
"Di situ juga kan kebetulan ada pengerjaan utilitas lain. Jadi ketemu di situ. Jadi kondisinya, di titik galian itu memang saat ini sedang terkendala. Jadi di bawahnya galian itu, ternyata ada jaringan utilitas lain, sehingga proses pengerjaannya mundur," jelas Gatra.
Sementara itu, terkait luapan air got kotor dan bau yang meluber ke jalanan, ia menyebut bahwa luapan itu bukan berasal dari pit (bak kontrol) proyek PAM Jaya.
"Kalau kata petugas di lapangan, itu memang air got yang banyak sampahnya di situ. Tapi memang perlu peninjauan kembali di lapangan. Kita juga selama ini sudah koordinasi dengan Sudin SDA (Sumber Daya Air)," ujar Gatra.
Sebelumnya, tampak di lokasi pada Senin (2/3) sore, air got membentuk kolam kecil berukuran 2 x 3 meter di tepi jalan. Air kotor berbau menyengat itu meluber hingga membuat becek badan jalan.
Bagian pinggir jalan pun tampak rusak akibat rembesan air. Di sekitar lokasi, masih terpasang papan pembatas proyek yang menutup salah satu lajur. Di area proyek galian juga tertulis "Sedang dilakukan upaya peningkatan layanan air perpipaan" yang disertai nomor pusat layanan (call center) PAM Jaya.
Secara terpisah, Kasudis SDA Jakarta Barat, Purwanti Suryandari, menjelaskan pihaknya sudah berkoordinasi dengan PAM Jaya terkait masalah di kawasan tersebut.
"Masalah itu telah dikoordinasikan dengan Dinas Bina Marga dan PAM Jaya. Sedang dikoordinasikan oleh Dinas Bina Marga ke PAM," katanya saat dihubungi. (Aji)





