Pemerintah Kota (Pemkot) Administrasi Jakarta Barat menggencarkan pemilahan sampah dengan melibatkan masyarakat untuk mengejar target residu turun dari 70 persen menjadi 30 persen.
"Jadi kalau kita sudah lakukan pengurangan sampah dari sumber, otomatis kalau kita berhasil 70 persen dipilah dan dikelola, berarti hanya 30 persen yang diangkut," ujar Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah, Kamis (9/4).
Untuk itu, sambungnya, Pemkot Jakbar terus menggencarkan program pilah sampah dan butuh kesadaran langsung dari masyarakat. Pihaknya juga terus menggecarkan sosialiasi di setiap wilayah terkait pilah sampah khususnya di lingkungan paling kecil, yakni rumah tangga hingga komunitas besar seperti di Rusun Tambora, Kelurahan Angke. Dan di lokasi ini sudah digelar workshop gerebek pilah sampah pada Rabu (8/4) kemarin.
"Memang kemarin juga ada beberapa persoalan di mana sampah yang dibuang masyarakat di sini menjadi perhatian kita. Ini menjadi tumpukan sampah timbulan yang menjadi persoalan," katanya.
Namun Iin memastikan saat ini ini volume sampah di kawasan tersebut telah berkurang setelah pihaknya membentuk tim untuk membuang sampah yang menumpuk.
"Tinggal kami fokus dengan membentuk tim bersama masyarakat untuk kerja sama secara sinergi, dari mulai pengurangan sampah, pemilahan sampah, dan pengelolaan sampah," jelasnya.
Iin menambahkan, kegiatan workshop pemilihan sampah di Rusun Tambora, Angke merupakan salah satu bentuk mitigasi terkait permasalahan penumpukan sampah di sejumlah titik.
"Itu adalah bentuk upaya kami untuk memitigasi penumpukan sampah dan pengangkutan sampah atau volume sampah yang diangkut ke Bantar Gebang," pungkasnya.
Sebelumnya, Sudis Lingkungan Hidup (LH) Jakarta Barat tengah mengupayakan penyediaan karung-karung berkapasitas dua hingga tiga meter kubik untuk mengatasi masalah sampah di Rusun Tambora, Angke.
Kepala Sudis LH Jakarta Barat, Achmad Hariadi, menjelaskan karung-karung itu akan dimanfaatkan sesuai dengan jenis-jenis sampah yang diproduksi warga.
"Kita lagi mengusahakan adanya kantong atau karung besar untuk menampung sampah-sampah organik seperti dedaunan atau ranting-ranting tanaman selain SOD (sampah organik dapur)," ungkap Hariadi saat dihubungi, Selasa (7/4).
Setelah terkumpul, lanjutnya, sampah-sampah itu akan dimanfaatkan sebagai pupuk kompos atau media tanam. Kemudian, lanjut dia, karung-karung besar juga akan disediakan untuk menampung sampah-sampah plastik yang tidak berharga, seperti bungkus-bungkus bubuk minuman (sachet).
"Jadi plastik-plastik itu tidak lagi dibuang, seperti plastik layar yang tidak berharga, kayak sachet minuman. Itu buang saja dalam karung dan nanti berguna buat bahan RDF (refused derived fuel) atau bahan bakar alternatif dari pengolahan sampah," jelasnya.
Pihaknya juga akan memberikan penanganan spesifik kepada SOD lantaran bau yang ditimbulkan jenis sampah tersebut. "Lalu yang SOD-nya ini memang relatif bau. Kita usahakan untuk bisa dimasukkan ke dalam lubang biopori Solo. Kalau ada maggot, kita kasih maggot, atau kalau yang punya ikan lele, kasih ke ikan lele," ujarnya.
Terkait sampah seperti botol plastik, kaleng, atau kardus/kertas kering, pihaknya tengah mengusulkan pengadaan bank sampah unit ke Unit Pengelola Rumah Susun (UPRS) I Tambora.
"Kita ini lagi mendorong untuk dibuatkan bank sampah di dalam Rusun, jadi bukan di luar. Kita mengusulkan kepada UPRS I Tambora agar bisa membuat bank sampah yang permanen," ujarnya.
Untuk memudahkan pelayanan pengumpulan sampah dari warga rusun, pihaknya menargetkan basement rusun sebagai lokasi tempat bank sampah.
"Di basement rusun kita dapat titik ya, yang memang lokasinya bagus buat bank sampah. Sehingga, bank sampahnya aman, tidak kena hujan, tidak kena panas. Jadi barangnya juga aman tidak sampai hancur atau rusak," kata Hariadi. (Aji)






