Suku Dinas Lingkungan Hidup (LH) Jakarta Barat mengerahkan sekitar seratus personel dan satu armada truk besar dibantu PPSU dan unsur lainnya untuk menangani sampah di Rusun Tambora, Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Rabu (15/4).
Kepala Sudis LH Jakbar, Achmad Hariadi, mengungkapkan penumpukan sampah hingga lantai 6 di rusun tersebut karena lorong pembuangan (shaft) sampah rusun tersumbat banyaknya sampah yang belum terangkut.
“Terhambat karena belum terangkut, jadi sampah yang di atas ketahan sampah yang di bawah. Kita sudah minta Kasatpel setempat untuk lakukan penanganan simultan, sekaligus sosialisasi kepada masyarakat, penghuni rusun terkait pemilahan sampah,” ujar Hariadi saat dikonfirmasi, Rabu (15/4).
Saat ini, sambungnya, penanganan sampah di rusun tersebut masih terus dilakukan. “Ada sekitar seratus petugas LH Jakbar bersama PPSU dan satu armada truk besar yang dikerahkan. Ada empat shaft sampah di sana, yang digunakan dua shaft, satu shaft sudah mau selesai. Satu shaft sekitar 2 kibik,” sebutnya.
Lebih lanjut Hariadi mengungkapkan, pekan lalu pihaknya telah melakukan workshop pemilahan sampah kepada penghuni Rusun Tambora dan warga masyarakat setempat. Menurutnya, penumpukan sampah terjadi karena warga penghuni rusun tidak bijak dalam mengelola sampah. “Karena sampah tidak terkelola, maka yang terjadi sampah menumpuk,” tandasnya.
Selain itu, bank sampah unit di Rusun Tambora tidak aktif. “Jadi tidak aktif bank sampahnya dan belum terbentuk bidang pengelolaan bank sampah, sehingga jadi sulit mengelola sampah di rusun. Untuk itu kehadiran Bu Wali, Sudin LH, Camat, Lurah dan lainnya dalam rangka workshop pemilahan sampah itu memberikan proses penyadaran masyarakat, untuk mengaktifkan kembali bank sampah RW khususnya di rusun,” jelas Hariadi.
Ia menegaskan, keberadaan bank sampah harus melibatkan stakeholders, masyarakat, petugas kebersihan dan unsur terkait lainnya. “Kalau hanya petugas kebersihan rusun saja tanpa masyarakat tidak akan efektif,” katanya.
Terkait penanganan sampah di lokasi lainnya di wilayah Jakarta Barat, seperti sekitar Pasar Kopro dan Jalan Kanal Banjir Barat (KBB), ia memastikan akan diangkut, namun menunggu jadwal karena pembatasan kuota di Bantar Gabang.
“Yang di Kopro nunggu jadwal, siap diangkut. Karena pembatasan kuota, pengangkutan juga terbatas, jadi tunggu jadwal saja itu, sama yang di KBB, tunggu jadwal. Tetap diangkut, akan dilayani dan tidak dibiarkan,” jelasnya. Hariadi menambahkan, masalah sampah yang utama adalah pengelolaannya.
“Yang penting sekali bukan pengangkutannya, tapi yang harus diperhatikan adalah masyarakat harus bijak dalam mengelola sampah, yaitu pilah sampah dari sumbernya. Kalau tidak, maka yang terjadi penumpukan sampah. Bantar Gebang sudah warning, sekarang yang dibuang itu harus residu. Harusnya 70 persen sampah dikelola, 30 persen residu ke Bantar Gebang,” pungkas Hariadi.
Sebelumnya pada daily brief, Rabu, 15 April 2026, terinfo, “Ketika Lubang Pembuangan Sampah di Rusunawa Ikut Tersumbat Hingga Lantai Enam”
Bau tidak sedap menyengat pernapasan warga Jakarta Barat. Kondisi ini sudah terjadi beberapa pekan terakhir. Asalnya dari tumpukan sampah yang belum diangkut oleh truk dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi DKI Jakarta.
Wilayah Jakarta Barat yang kini terdampak masalah gunungan sampah, yakni area luar Pasar Kopro di Grogol Petamburan, badan Jalan Kanal Banjir Barat, serta Rusun Angke di Tambora. Di area luar Pasar Kopro, tumpukan sampah menggunung dan meluber hingga ke badan jalan. Tumpukan sampah itu sebagian besar berupa limbah rumah tangga, kantong plastik, karung, hingga kasur bekas. (Aji)






