Untuk menekan produksi sampah sejak dari sumbernya atau di tingkat rumah tangga, Suku Dinas Lingkungan Hidup (LH) Jakarta Barat menggencarkan program “gerebek pilah” dan workshop pengelolaan sampah.
Kasudis LH Jakarta Barat, Achmad Hariadi, menjelaskan program ini dilakukan dengan mendatangi langsung rumah warga hingga rumah susun untuk mengedukasi pemilahan sampah di wilayah.
“Kita datangi langsung ke sumbernya. Kalau sampah masih tercampur antara organik dan anorganik, kita edukasi agar dipilah. Itu yang kita sebut gerebek pilah sampah,” jelas Hariadi saat dikonfirmasi, Kamis (2/4).
Ia menjelaskan, program tersebut telah dilaksanakan di sejumlah lokasi dan akan terus diperluas secara bertahap ke wilayah lainnya.
“Beberapa waktu lalu sudah kita mulai di Rusun Cinta Kasih, RW 17 Cengkareng Timur. Lalu kita juga lakukan di Kembangan bekerja sama dengan Damkar,” ungkapnya.
Ke depan, sambungnya, kegiatan serupa akan dilanjutkan oleh para Satuan Pelaksana (Satpel) di tingkat kecamatan dengan menyasar lebih banyak wilayah permukiman warga.
“Selanjutnya kita akan ke RW 04 Tegal Alur, Kalideres, kemudian RW 09 Keagungan, Taman Sari, Rusun Tambora, RW 07 Slipi, hingga RW 01 Tanjung Duren Selatan,” sebut Hariadi.
Ia menambahkan, program ini ke depannya akan menjangkau seluruh RW di Jakarta Barat sebagai bagian dari strategi jangka panjang penanganan sampah yang telah mendapat dukungan Wali Kota Jakarta Barat.
“Kita targetkan dalam satu minggu ada dua kali kegiatan gerebek pilah sampah,” katanya.
Pihaknya menyoroti pembatasan kuota pengiriman sampah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, yang saat ini turun dari 308 menjadi 190 truk per hari akibat insiden longsor pada 8 Maret lalu.
Hariadi menambahkan, kondisi tersebut menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah secara mandiri di lingkungannya.
“Kondisi ini jadi alarm bahwa kita tidak bisa terus bergantung ke Bantar Gebang. Warga harus mulai bijak dalam mengelola sampah,” pungkasnya. (Aji)






