Sebanyak 138 Qori dan Qoriah dari delapan kecamatan mengikuti Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) Piala Gubernur DKI Jakarta tahun 2026 tingkat Kota Administrasi Jakarta Barat, Kamis (16/7).
Kegiatan dibuka Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah, berlangsung di Aula Masjid Assahara, komplek kantor wali kota. Hadir Ketua LPTQ DKI, Muhammad Ali, Ketua MUI Jakbar KH Abdurrahman Shoheh, Ketua PD Muhammadiyah Jakbar, KH Narmodo, sejumlah pimpinan OPD dan para camat se Jakarta Barat.
Ketua LPTQ Jakarta Barat, HM Rifai, mengungkapkan MTQ ini berbeda dari tahun sebelumnya yang terdapat 5-6 bidang/kategori. Tahun ini kegiatan terdiri atas sepuluh kategori dan hanya mengirimkan satu peserta terbaik ke tingkat provinsi.
Adapun kategorinya adalah; tartil anak-anak, tartil umum, tilawah kanak-kanak, tilawah remaja, tilawah dewasa, qiraah mujawwad, tahfidz 1 judz plus tilawah, tahfidz 5 juz plus tilawah, tahfiz 10 juz plus tilawah dan tilawah bagi peserta tuna netra.
"Khusus tunanetra akan dilaksanakan secara daring. Nantinya, peserta terbaik akan mewakili Jakarta Barat ke tingkat Provinsi DKI Jakarta," ujar Rifai.
Kegiatan dilaksanakan selama dua hari, 16 dan 17 Juli 2026, di tiga tempat lingkungan kantor wali kota Jakbar. Yakni Aula Masjid Assahara, Ruang Wijaya Kusuma lantai 2 gedung A dan Ruang MH Thamrin lantai 2 gedung B Kantor Wali Kota Jakarta Barat.
Sementara itu, Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainah menegaskan penyelenggaraan MTQ bukan sekadar ajang lomba membaca Quran dengan indah. Kegiatan ini juga merupakan sarana untuk menumbuhkan kecintaan kita kepada Al-Quran, memperkuar syiar Islam serta membentuk generasi yang berahlak mulia.
"Setiap tahun pelaksanaan MTQ dan STQH digelar mulai tingkat kecamatan hingga nasional. Tapi tahun ini di DKI dilaksanakan muali dari tingkat kelurahan secara serentak," ujarnya.
Iin menambahkan, kegiatan ini merupakan momentum strategis yang memiliki banyak manfaat bagi masyarakat Jakarta, khususnya dalam membangun mental dan spiritual warga.
Ia berharap dari kegiatan ini akan lahir qari dan qariah, hafidz dan hafidzah serta generasi muda yang tidak hanya fasih membaca Al-Qur'an, tapi juga mampu mengamalkan nilai-nilai di dalamnya pada kehidupan sehari-hari di masyarakat.
"Dengan demikian Al-Qur'an benar-benar menjadi pedoman hidup, sumber inspirasi dan cahaya penerang bagi kita semua," pungkasnya. (Aji)






