Biro Pembangunan dan Lingkungan Hidup (PLH) Sekretariat Daerah Provinsi DKI Jakarta monitoring hasil pembangunan septiktank tahun 2025 di wilayah Jakarta Barat, Selasa (7/4).
Monitoring mengambil sampel di dua lokasi, yakni Kampung Bali Jalan Kali Sekretaris, RT 07/05 Kelutahan Duri Kepa, Kecamatan Kebon Jeruk, dan Jalan Wijaya Kusuma VIII, RT 11/07 Kelurahan Wijaya Kusuma, Kecamatan Grogol Petamburan.
Ketua Sub Kelompok Lingkungan Hidup Biro PLH Setda DKI, Yossi Lusia menjelaskan moitoring bertujuan melihat langsung dampak kesehatan dari hasil pembangunan septiktank di wilayah Jakbar. "Jadi kita monitoring dua lokasi. Yang di Duri Kepa merupakan pembangunan dari Kementrian Kesehatan dan di Wijaya Kesuma pembangunan dari SDA," ujarnya di lokasi, Selasa (7/4).
Selain meninjau aspek teknis, monitoring juga melakukan pengawasan terhadap dampak kesehatan hasil pembangunan seperti tidak menghaislkan polusi bau dan cairan. Kegiatan monitoring melibatkan Dinas Sumber Daya Air (SDA), Kesehatan, UKPD terkait di tingkat wilayah dan perangkat wilayah setempat.
Lebih lanjut Yossi mengatakan, terkait monitoring teknis, peninjauan termasuk memantau peralatan, spesifikasi dan sistem pengolahan limbah dari septiktank. Monitoring juga untuk memastikan manfaat dan program pengentasan BABS (Buang Air Besar Sembarangan).
Ia menambahkan, hasil akhir dari pembangunan septiktank ini akan bisa mengentaskan BABS agar mengurangi angka stunting di DKI. Karena itu, sambungnya, monitoring juga meliputi pemantauan dampak kesehatan masyarakat di lingkungan sekitar pasca pembangunan septiktank.
"Kita berharap rumah-rumah di sini, masyarakat di sini, tingkat kesehatannya sudah lebih baik. Karena sudah tidak buang air limbahnya sembarangan lagi," tuturnya.
Sementara itu, Ketua RT 11/07 Wijaya Kusuma, Handayani, mengungkapkan warganya mengapresiaisi hasil pembangunan septiktank di wilayahnya. Saat ini sudah ada tiga titik septiktank komunal di lingkungannya yang menampung limbah air hitam dari 11 KK.
Diungkapkan, sebelum dibangun septiktank komunal, warga membuang limbah air hitam langsung ke saluran dan Phb yang ada di lingkungan sekitar. Menurutnya, pembangunan septiktank berdampak meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan. "Sekarang setelah dibangun ada warga lain yang malah meminta juga dibangunkan di lingkungannya," katanya. (Aji)





