Memasuki awal Ramadan 2026, sejumlah komoditas pangan di Pasar Kopro atau Tomang Barat, Jalan Tanjung Duren Raya, Kelurahan Tanjung Duren Selatan (TDS), Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat, rata-rata mengalami kenaikan.
Kenaikan paling tinggi terjadi pada komoditas cabai rawit merah dan bawang merah yang mencapai hingga dua kali lipat harga normal.
Salah satu pedagang di pasar tersebut, Nuh (65) mengungkapkan kenaikan harga mulai terasa sejak satu pekan sebelum bulan puasa.
“Yang naik banyak tuh cabai sama bawang yang tinggi. Yang paling parah rawit setan, dari harga normal Rp60.000 sekarang tembus Rp100.000 per kilogram, bahkan kemarin sempat mencapai Rp110.000 per kilogramnya,” ungkapnya saat ditemui di Pasar Tomang Barat, Kamis (19/2).
Selain cabai, sambungnya, harga bawang merah juga meningkat dari Rp35 ribu menjadi Rp55 ribu per kilogram. Sedang harga telur naik dari Rp28 ribu menjadi Rp31 ribu per kilogram.
“Kalau bawang putih memang sudah lama naiknya. Kalau untuk cabai-cabai itu baru naiknya kemarin waktu sebelum puasa,” ungkap Nuh.
Lebih lanjut ia menyebut, flutuasi harga sangat bergantung pada pasokan di pusat grosir Kramat Jati. Jika stok kosong, harga akan langsung melejit mengikuti permainan pasar di tingkat bandar.
“Kita enggak bisa memprediksikan harga pada pertengahan bulan puasa. Biasanya kalau di pusat ada barang banyak, mereka pasarannya murah. Tetapi kalau barangnya kosong, biasanya harganya langsung melejit harganya,” jelasnya.
“Jadi tergantung, kalau di pusatnya barangnya kosong, langsung naik harganya. Tetapi kalau banjir (barangnya banyak) di sana dan numpuk kemudian tidak terjual, harganya akan langsung jatuh,” sambung Nuh.
Kenaikan harga tersebut menurutnya sangat berdampak pada daya beli masyarakat. Ia mengaku omzet penjualan menurun karena pembeli mengurangi jumlah belanja.
“Omzetnya pasti berkurang lah, karena kan pembelinya juga berkurang. Mungkin karena harganya terlalu tinggi ya,” katanya.
Nuh berharap ke depan harga bahan pokok lebih stabil dan terjangkau masyarakat, tanpa merugikan petani maupun pedagang.
“Harapannya ke depan ya kita sih mintanya ya stabil, harga terjangkau sama masyarakat kecil. Kalau minta murah juga enggak, karena kan kalau murah kasian juga para petani. Kita imbang aja lah, bisa dijual, bisa membeli,” pungkasnya. (Aji)






