Pemerintah Kota (Pemkot) Administrasi Jakarta Barat bersama dengan PT Esa Maha Karya Tunggal bertekad mengatasi masalah pencemaran air dengan melakukan uji coba penggunaan bakteri Ecotru untuk menjernihkan air di saluran Pengubung (PHB) di Kawasan Sentral Primer Barat (SPB) Puri Kembangan yang mengalir menuju saluran sisi kantor wali kota.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Asekbang) Jakarta Barat, Imron Syahrin, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan arahan langsung dari pimpinan yang menginginkan kualitas air di sekitar kawasan perkantoran wali kota menjadi lebih bersih dan jernih.
"Langkah awal adalah melakukan tes air. Kami mengambil sampel untuk melihat perkembangan selama lima hari ke depan setelah dicampur dengan bakteri Ecotru. Kami ingin melihat apakah ada perubahan signifikan," ujar Imron saat meninjau lokasi, Kamis (26/3).
Imron menambahkan, bahwa bakteri Ecotru ini diklaim memiliki daya tahan yang cukup tinggi, yakni mampu berkembang biak pada suhu hingga 60°C dan menoleransi kadar Methylene Blue Active Substances (MBAS) atau kandungan detergen hingga maksimal 20.000 unit.
Guna memastikan efektivitasnya, pihaknya telah berkoordinasi dengan Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Jakbar untuk memetakan kondisi MBAS di berbagai kali di Jakarta Barat.
"Jika kadar MBAS-nya ternyata sangat tinggi, kita akan cari sumbernya, apakah dari limbah rumah tangga atau pabrik. Target kita adalah berkolaborasi untuk membuat semua kali di Jakarta Barat lebih jernih," tegasnya.
Sementara itu, Direktur PT Esa Maha Karya Tunggal, Eka Lestari Sinaga, menjelaskan bahwa proses yang dilakukan merupakan bentuk bioremediasi sungai. Dari pantauan awal, saluran air di kawasan tersebut mengandung banyak minyak, lemak, serta sedimen yang tebal.
"Kondisinya cukup memprihatinkan dengan adanya busa, yang mengindikasikan kandungan sabun tinggi atau aktivitas pembusukan sampah organik yang terlarut," jelas Eka.
Terkait teknis aplikasi, bakteri Ecotru harus dipersiapkan selama dua puluh empat jam sebelum dicampurkan ke dalam air. Menariknya, sambung Eka penggunaan bakteri ini juga berdampak pada hilangnya hama seperti lalat dan belatung.
"Bakteri ini menghentikan proses pembusukan organik yang merusak lingkungan. Karena air menjadi lebih bersih dan tidak ada lagi pembusukan, maka lalat maupun belatung tidak akan mau hidup di sana," pungkasnya. (Yan)





