Warga RW 09 Kelurahan Keagungan, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat, membuktikan bahwa sampah bukan sekadar limbah, melainkan instrumen peningkatan ekonomi. Melalui inisiatif bertajuk "Sampahku, Emasku", warga setempat berhasil mengonversi hasil pilah sampah menjadi tabungan emas untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga.
​Lurah Keagungan, Sahat Marulitua Simorangkir, menjelaskan bahwa program yang dicanangkan sejak tahun 2025 ini berawal dari partisipasi warga dalam Lomba Keuangan Sehat yang diinisiasi oleh PKK. Prestasi ini pun membanggakan, di mana saat ini program tersebut tengah dalam proses penilaian di tingkat nasional mewakili Provinsi DKI Jakarta.
​"Kami fokus pada dua lini pengelolaan. Sampah anorganik disetor ke bank sampah untuk dikonversi menjadi tabungan emas di Pegadaian, sementara sampah organik diolah menjadi kompos, eco-enzyme, dan eco-brick," ujarnya saat ditemui di lokasi, Selasa (21/4).
​Hingga kini, Sahat menjelaskan, sebanyak 30 hingga 40 kepala keluarga (KK) aktif berpartisipasi. Dampaknya nyata, volume sampah di lingkungan RW 09 berhasil ditekan hingga 20%. Selain kebersihan, warga juga merasakan udara di gang-gang sempit menjadi lebih segar berkat penyemprotan cairan eco-enzyme hasil olahan mandiri.​ Diharapkan kesadaran ini meluas ke seluruh wilayah Jakarta.
"Harapan kami, warga mulai memilah sampah dari rumah. Ini bukan hanya soal menjaga kebersihan lingkungan, tapi juga membangun kemandirian finansial melalui nilai ekonomi yang terkandung dalam sampah," tutupnya
​Sementara itu, Ketua TP PKK Kelurahan Keagungan, Norayanti Sahat, menyoroti aspek ketahanan pangan di tengah keterbatasan lahan. Sebagai lokasi fokus (lokus) Gerakan Keluarga Sehat Tanggap dan Tangguh Bencana (GKS TTB), warga mengembangkan budidaya ubi dalam karung.
​"Kami menggunakan pupuk kompos hasil olahan warga untuk menanam ubi. Hasilnya ganda, umbinya sebagai pengganti nasi, dan daunnya dimanfaatkan untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita di lingkungan," jelas Norayanti.
Sebagai informasi, kKeberhasilan RW 09 ini rencananya akan dijadikan percontohan (pilot project-red) yang akan segera didampingi oleh RW 06 dan RW 08. Program ini diproyeksikan terus berjalan hingga tahun 2029 dengan evaluasi rutin setiap enam bulan guna memastikan perubahan perilaku masyarakat tetap konsisten. (Hfz)
​






