Pemerintah Kota (Pemkot) Administrasi Jakarta Barat bersama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan PT Esa Mahakarya Tunggal (EcoTru) komitmen untuk mentargetkan pengurangan sampah dari hulu hingga 70 persen pada 2026.
Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah mengatakan, kolaborasi lintas sektor dan inovasi teknologi menjadi kunci utama untuk mengurangi sampai dari hulu mencapai 70 persen. Strategi ini diambil untuk memastikan hanya residu sebesar 30% yang akan dikirim ke TPST Bantar Gebang.
"Kita ingin mengubah paradigma TPST. Fokus kita adalah menyelesaikan masalah di hulu agar TPST Bantargebang benar-benar berfungsi sebagai tempat pengolahan, bukan sekadar tempat pembuangan akhir," tegasnya.
Untuk itu, pihaknya akan merealisasikan dengan memulai proyek percontohan (pilot project) pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar solar serta bioremediasi sungai. Dua lokasi yang diprioritaskan adalah TPS 3R Bambu Larangan dan Duri Kosambi, Kecamatan Cengkareng.
Di tempat yang sama, Direktur Pengurangan Sampah dan Ekonomi Sirkular Kementerian LH, Agus Rusli, sesuai arahan Menteri LH, pengawalan pengelolaan sampah di tingkat daerah menjadi prioritas nasional dengan target pengelolaan 100% pada tahun 2029.
"Kami mewajibkan pemilahan di hulu. Baik menggunakan metode pirolisis, kompos, maupun waste-to-energy, kuncinya adalah sampah yang terpilah antara organik dan anorganik," ujar Agus.
Sementara itu, Direktur PT Esa Mahakarya Tunggal (EcoTru), Eka Lestari Sinaga, pihaknya bersama PT Tuntas selaku penyedia alat pemilah sampah plastik dan teknologi bioteknologi menyebutkan program ini akan melalui tahap uji coba di TPS 3R yang nanti ditentukan.
"Sekarang kita fokus pada kesiapan SDM di lapangan. Sudin Lingkungan Hidup akan menyiapkan personel untuk memilah minimal 1 ton sampah per hari di Bambu Larangan," tambahnya.
Diketahui, saat ini Jakarta Barat telah memiliki lima lokasi TPS 3R, yaitu Meruya Selatan, Bambu Larangan, Duri Kosambi, Tegal Alur, dan Tanah Sereal. Pada tahun ini akan dilakukan penambahan fitur mesin pemilah "Grandong", rotary dryer, hingga mesin pencacah yang mampu mengolah berbagai jenis sampah. Dan penerapan mesin biopori bertenaga listrik serta program 'Banjir Zero' tingkat RW, yaitu di Kedoya Utara, Kecamatan Kebon Jeruk. (Hfz)




