Pembuatan eco enzyme terbanyak oleh perempuan dan pelajar berkebaya yang digelar serentak di lima wilayah DKI Jakarta, pada 18 Juni 2026, telah memecahkan rekor dan tercatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Kepastian pemecahan rekor MURI disampaikan melalui berita acara Yayasan Sedulur Bunda Milenial, yang ditandatangani Ketua Umum dan Founder Yayasan Sedulur Bunda Milenial, Sisca Rumondor, pada 26 Juni 2026.
Dalam berita acara tersebut, Yayasan Sedulur Bunda Milenial menyampaikan bahwa berdasarkan proses verifikasi dan validasi yang dilakukan Tim Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), kegiatan (pembuatan eco enzyme terbanyak oleh perempuan dan pelajar berkebaya) ini dinyatakan berhasil memecahkan rekor dan resmi tercatat sebagai Rekor MURI.
Pemecahan rekor MURI didasari dari target awal 6000 peserta menjadi 6.336 peserta di lima wilayah kota administrasi DKI Jakarta, dengan hasil produksi 12.000 liter eco enzyme.
Ketua Umum dan Founder Yayasan Sedulur Bunda Milenial, Sisca Rumondor, menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada Pemprov DKI Jakarta, para wali kota, dinas lingkungan hidup, dinas pendidikan, TP PKK, UPS Badan Air, Lions Club Jakarta Bunda Milenial Distrik 307-A1, pimpinan Lions Club Distrik 307-01, sekolah-sekolah, dan seluruh pihak yang telah mendukung dan menyukseskan kegiatan ini.
"Kami berharap keberhasilan pencapaian ini tidak berhenti sebagai pencapaian rekor semata tapi menjadi awal dari gerakan lingkungan berkelanjutan yang melibatkan perempuan, generasi muda, sekolah, komunitas dan pemerintah," katanya.
Sebelumnya diinformasikan, Pemprov DKI Jakarta berkolaborasi dengan Yayasan Sedulur Bunda Milenial mengadakan kegiatan Gerakan Nasional Bersih Sungai dan workshop pembuatan Eco Enzym di lima wilayah DKI Jakarta, Kamis (18/6).
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring (dalam jaringan) melibatkan para perempuan dan pelajar berkebaya. Untuk wilayah Jakarta Barat, pelaksanaan kegiatan berlangsung di Aula Kantor Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. Menghadirkan 100 peserta terdiri dari anggota PKK, dan pelajar, serta 20 galon sebagai wadah pembuatan eco enzym.
Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Purwanti Suryandari mengatakan bahwa sebagian besar dari 9.000 ton sampah yang dibuang di Bantar Gebang, Bekasi, merupakan sampah organik atau sisa olahan dapur. Bila sampah rumah tangga tersebut tidak dikelola maka dapat melepaskan gas etanol yang dapat merusak lapisan atmosfer.
"Melalui workshop ini, kita berkumpul untuk mengedukasi pengelolaan sampah dari sumbernya, dari rumah kita sendiri, sehingga dapat dikelola menjadi cairan multi manfaat melalui eco enzym," tuturnya.
Mewakili Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setko Jakarta Barat, Imron Syahrin menuturkan, Pemkot Jakarta Barat berkolaborasi dengan Yayasan Sedulur Bunda Milenial melakukan kegiatan pembuatan eco enzyme dalam rangka Gerakan Nasional Bersih Sungai.
"Kegiatan ini diikuti para perempuan dan pelajar di delapan wilayah kecamatan dan 17 sekolah. Total peserta yang terlibat dalam kegiatan ini berjumlah 1276 peserta," ujarnya. (why)






