Suku Dinas Bina Marga (SDBM) dan Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Barat telah menindak lanjuti kondisi jalan berlubang dan genangan air di wilayah Kelurahan Joglo, Kecamatan Kembangan, perbatasan dengan Jakarta Selatan.
Plh Kepala Sudis Bina Marga Jakarta Barat, Abdul Jabar, mengungkapkan pihaknya sudah menindak lanjuti hal tersebut dengan meninjau langsung ke lokasi pada awal Mei 2026 lalu. Untuk penanganannya pihak Dinas Bina Marga (DBM) DKI telah berkoordinasi dengan Sudis SDA Jakarta Selatan dan Jakarta Barat.
Diungkapkan Jabar, titik kerusakan banyak berada di Jakarta Selatan. Jabar menjelaskan, selama jalan masih ada genangan air, pihaknya belum bisa menanganinya, karena akan rusak kembali.
“Lokasi sudah terpantau, kita tunggu SDA TL (Tindaklanjut) salurannya dulu. Tanggal 1 Mei 2026 sudah pernah dicek ke lokasi, yang perbatasan, Jaksel dan Jakbar. Tapi yang parah ke arah Jaksel-nya. Dari Dinas DBM, Pak Sekdis sudah japri minta ke Kasudin SDA Jaksel dan Jakbar langsung agar TL salurannya,” ujarnya.
Sementara itu, Kasudis SDA Jakarta Barat, Mustajab, menjelaskan pihaknya segera melakukan penanganan di lokasi. Ada dua langkah penanganan yang dilakukan, yakni jangka pendek dan jangka panjang.
“Untuk penanganan jangka pendek, segera. Tim Satgas Sudis Sumber Daya Air (SDA) Kecamatan akan dikerahkan ke lokasi untuk melakukan pembersihan sumbatan tali-tali air/saluran drainase guna mengurai genangan,” jelasnya.
Adapun untuk rencana penanganan jangka panjang, sambung Mustajab, pada tahun ini akan dilakukan pembangunan di lokasi.
“Kondisi genangan di Jl Muchtar, Sudis SDA tahun ini akan melaksanakan pembangunan. Kontrak sudah ditanda tangani, sudah kontrak Jumat Minggu lalu. Kemarin baru uitzet (persiapan awal), menunggu jadwal sosialisasi, setelah itu bisa mulai,” jelasnya.
Sebelumnya terinfo pada Daily Brief 11 Juni 2026, “Keluhan Jalan Berlubang dan Genangan Air di Kawasan Joglo Jakarta Barat”
Beredar unggahan mengenai kondisi genangan permanen dan jalan berlubang di Jl. H. Mochtar Raya, kawasan Joglo, Jakarta Barat. Unggahan tersebut menyoroti kondisi jalan yang tetap tergenang meskipun tidak turun hujan, disertai lubang jalan yang tertutup air sehingga membahayakan pengendara.
Narasi mengenai banyaknya pengendara yang terjatuh, bau saluran air yang menyengat, hingga kondisi yang disebut telah berlangsung puluhan tahun menjadi pemicu utama tingginya atensi publik.
Perbincangan didominasi dengan kritik terhadap pemerintah daerah dan OPD terkait yang dinilai lamban serta saling melempar tanggung jawab karena lokasi berada di kawasan perbatasan. Warganet menilai penanganan yang dilakukan selama ini hanya bersifat sementara, seperti tambal aspal dan peninggian jalan tanpa pembenahan drainase utama.
Banyak komentar juga menyoroti persoalan koordinasi antara Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Kota Tangerang yang dianggap tidak berjalan efektif. Selain kritik, muncul sarkasme dengan istilah “banjir abadi” dan anggapan bahwa perbaikan baru dilakukan setelah isu viral di media sosial. (Aji)






