Pemerintah Kota (Pemkot) Administrasi Jakarta Barat bersama Badan Pengurus Wilayah Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Provinsi DKI Jakarta komitmen memperkuat kolaborasi untuk menekan angka kasus Tuberkulosis (TBC) di wilayah hingga RT dan RW.
Demikian disampaikan saat Sekkretaris Kota Jakarta Barat, Firmanuddin Ibrahim menerima audiensi dengan Ketua PPTI DKI Jakarta, dr. Jhon Marbun di Ruang Rapat Kantor Wali Kota Jakbar, Kamis (16/4). Sinergi ini bertujuan mencapai target penurunan angka kesakitan dan kematian akibat TBC pada tahun 2030.
Sekretaris Kota Jakarta Barat, Firmanudin Ibrahim, mengatakan bahwa wilayah Jakarta Barat, khususnya Kecamatan Tambora, memiliki tantangan besar dengan tingkat kepadatan penduduk yang sangat tinggi, yang berkontribusi pada tingginya angka TBC.
"Di Tambora, datanya cukup besar, sekitar 40 persen kasus TBC di Jakarta Barat ada di sana. Ini disebabkan oleh lingkungan yang padat, bahkan ada satu rumah kecil yang dihuni banyak keluarga secara bergantian untuk tidur," ungkapnya.
Oleh karena itu, Pemkot Jakarta Barat berencana menjadikan Tambora sebagai proyek percontohan (pilot project) dalam penanganan TBC yang terintegrasi dengan program penataan kawasan dan pemberdayaan UMKM.
Selain melibatkan kader PPTI, Firmanudin menginstruksikan jajaran Camat dan Lurah untuk mengoptimalkan peran 'Pasukan Putih' atau tenaga kesehatan di tingkat Puskesmas kelurahan untuk melakukan pengawasan minum obat.
"Saat ini kita sudah memiliki instrumen 'Pasukan Putih'. Saya minta PPTI juga memberikan sosialisasi dan edukasi kepada mereka. Pasukan ini yang nantinya merawat dan mengontrol pasien agar disiplin dalam pengobatan dan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)," tegasnya.
Melalui upaya "keroyokan" atau grebekan massal yang melibatkan berbagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)—mulai dari Kesehatan, Pendidikan, hingga Kominfo—Pemkot Jakarta Barat optimistis target eliminasi TBC yang diamanatkan dalam Instruksi Presiden dapat tercapai.
"Kita harapkan masyarakat semakin sadar bahwa TBC harus segera ditangani di sarana pelayanan kesehatan agar angka kasusnya terus menurun secara otomatis," tutup Firmanudin.
Sementara itu, Ketua PPTI DKI Jakarta, dr. Jhon Marbun, menyatakan bahwa PPTI hadir sebagai mitra strategis dan profesional bagi pemerintah dalam upaya pemberantasan TBC. Ia menekankan pentingnya kolaborasi hingga ke level paling bawah dalam struktur masyarakat.
"Kami akan bersinergi untuk program-program yang menjangkau tingkat kelurahan hingga RT/RW melalui kader-kader kesehatan. Target kami pada 2030 terjadi penurunan signifikan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit ini," jelas Jhon.
Salah satu program konkret yang ditawarkan PPTI adalah pelatihan kader di Jakarta Barat untuk melakukan penelusuran kasus di lapangan. Fokus utama mereka adalah mengatasi masalah Loss to Follow Up (LTFU) atau pasien yang putus obat.
"Kami ingin memastikan jangan sampai ada warga yang konsumsi obat, lalu berhenti di tengah jalan (drop out). Kami juga fokus pada close contact atau kontak erat, karena lingkungan rumah penderita TBC sangat rentan terjangkit infeksi," tambahnya. (Yan)





