Pemprov DKI Jakarta berkolaborasi dengan Yayasan Sedulur Bunda Milenial mengadakan kegiatan Gerakan Nasional Bersih Sungai dan workshop pembuatan 6000 eco enzym di lima wilayah DKI Jakarta, Kamis (18/6).
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring (dalam jaringan) melibatkan para perempuan dan pelajar berkebaya. Untuk wilayah Jakarta Barat, pelaksanaan kegiatan berlangsung di Aula Kantor Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. Menghadirkan 100 peserta terdiri anggota PKK, dan pelajar serta 20 galon untuk pembuatan eco enzym.
Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Purwanti Suryandari mengatakan bahwa sebagian besar dari 9.000 ton sampah yang dibuang di Bantar Gebang, Bekasi, merupakan sampah organik atau sisa olahan dapur. Bila sampah rumah tangga tersebut tidak dikelola maka dapat melepaskan gas etanol yang dapat merusak lapisan atmosfer.
"Melalui workshop ini, kita berkumpul untuk mengedukasi pengelolaan sampah dari sumbernya, dari rumah kita sendiri, sehingga dapat dikelola menjadi cairan multi manfaat melalui eco enzym," tuturnya.
Meski begitu, lanjut Purwanti, workshop tak hanya melatih pembuatan eco enzym namun juga bergerak serentak melakukan aksi nyata melakukan pemilahan dan pengurangan sampah pada sumbernya.
Sementara itu, mewakili Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setko Jakarta Barat, Imron Syahrin menuturkan, Pemkot Jakarta Barat berkolaborasi dengan Yayasan Sedulur Bunda Milenial melakukan kegiatan pembuatan eko enzym dalam rangka Gerakan Nasional Bersih Sungai.
"Kegiatan ini diikuti para perempuan dan pelajar di delapan wilayah kecamatan dan 17 sekolah. Total peserta yang terlibat dalam kegiatan ini berjumlah 1276 peserta," ujarnya.
Di jelaskan, kegiatan pembuatan eco enzym ini selaras dengan kebijakan Pemprov DKI Jakarta, yakni Instruksi Gubernur DKI No.5 Tahun 2026 tentang gerakan pemilahan dan pengolahan sampah pada sumbernya.
"Jadi eco enzyme yang dibuat ini memiliki banyak manfaat. Utamnya adalah eco enzym bisa membersihkan air sungai. Bisa mengurai bakteri-bakteri yang ada di sungai sehingga sungai menjadi bersih," ujarnya.
Selain itu, lanjut Imron, eco enzym juga berguna untuk mengurangi sampah, terutama sampah organik menjadi pupuk kompos. "Pupuk kompos ini bisa menyuburkan tanaman yang ada di sekitar kita," ujarnya.
Sementara itu Bunda Eco Enzyme, Ewa Octarina Imron menuturkan bahwa inti dari pembuatan eco enzyme adalah pengurangan sampah organik, terutama sampah sisa olahan dapur.
"ini sangat mudah. Karena sampah yang sehari-hari dihasilkan di dapur, terutama kulit buah, itu bisa digunakan untuk pembuatan eco enzyme dengan metode 10:3:1. Artinya, 10 liter air, 3 kilo sampah kulit buah dan 1 liter molase," ujarnya.
Cara pembuatan eco enzyme, lanjut Ewa, pertama campurkan air dengan molase. Kemudian masukkan sampah kulit buah. Setelah itu dilakukan fermentasi selama 3 bulan. "Kita panen 3 bulan kemudian. Eco enzym berguna untuk membersihkan air sungai, juga bisa dijadikan pupuk cair tanaman, serta untuk pembersih lantai. Ada juga untuk pembuatan sabun dan sebagainya. Jadi banyak sekali manfaat yang bisa diterima," tambahnya. (why)





