Tim Penggerak (TP) PKK Jakarta Barat bersama Suku Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) menggelar Pertemuan Rutin (Pertin) Pokja IV untuk memperkuat kapasitas kader PKK dan mempercepat penurunan stunting. Kegiatan berlangsung di Ruang Wijaya Kusuma, Kantor Wali Kota, Rabu (14/10).
Ketua Pokja IV TP PKK Kota Administrasi Jakarta Barat, Nurlia Abdurrahman Anwar, mengatakan pertemuan rutin tersebut bukan sekadar ajang berkumpul, melainkan momentum untuk meningkatkan pengetahuan kader, khususnya terkait program kesehatan, keluarga, lingkungan, dan penanganan stunting.
Menurutnya, pertemuan tersebut perlu dimanfaatkan untuk menyamakan persepsi, memperkuat komitmen, serta menyusun program kerja yang sesuai dengan kebutuhan di masing-masing wilayah.
"Mari kita jadikan pertemuan ini sebagai momentum untuk menyamakan persepsi, memperkuat komitmen, dan menyusun program kerja sesuai dengan kebutuhan yang ada di wilayah," tuturnya.
Nurlia juga mengingatkan kader PKK di tingkat kecamatan dan kelurahan agar terus memantau perkembangan kegiatan Posyandu, terutama terkait registrasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan pelaporan Posyandu. Ia menekankan pentingnya ketepatan waktu dalam menyampaikan laporan dari tingkat kelurahan ke tingkat kota.
"Dan juga tidak lupa kepada para kader untuk selalu memantau perkembangan di Posyandu. Registrasi tentang SPM, pelaporan Posyandu, melaporkan ke tingkat kota sebaiknya sebelum awal bulan ya, Ibu-ibu semua," ujar Nurlia.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas PPAPP Jakarta Barat, Dian Anggraini Susanthy, menyampaikan hasil monitoring dan evaluasi Gerakan Keluarga Sehat Tanggap dan Tangguh Bencana (GKSTTB) bersama jajaran TP PKK Provinsi DKI Jakarta di Kelurahan Keagungan, Kecamatan Taman Sari, pada Senin sebelumnya.
Dian mengapresiasi upaya masyarakat Kelurahan Keagungan dalam memberdayakan lingkungan untuk mendukung terciptanya keluarga sehat dan tangguh bencana, meskipun berada di kawasan dengan permukiman padat.
"Saya sangat impresif sekali di wilayah yang domisilinya padat, seperti Keagungan, masih bisa memberdayakan lingkungannya untuk menciptakan keluarga yang sehat dan tangguh bencana. Ini ujungnya ke stunting juga," ujarnya.
Ia menjelaskan, Kelurahan Keagungan memiliki inovasi menanam ubi ungu menggunakan karung goni di lahan terbatas. Hasil panen tersebut dimanfaatkan sebagai alternatif pangan pengganti beras dan diolah menjadi keripik ubi untuk dipasarkan sebagai produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Selain itu, warga mengelola bank sampah yang dapat mengurangi timbulan sampah sekaligus menambah pendapatan keluarga.
"Selain itu mereka juga mengelola bank sampah yang bisa menjadi pendapatan tambahan bagi keluarga dan mengurangi sampah, sebagaimana programnya Pak Gubernur di Ingub 5 Tahun 2026, kita harus pilah sampah langsung dari sumbernya dan mereka sudah melakukan itu," jelasnya.
Dian menambahkan, warga juga memanfaatkan lahan tidur melalui kerja sama dengan masyarakat dan pihak swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Sampah organik diolah menjadi eco-enzyme yang memiliki nilai ekonomis.
"Alhamdulillah Kelurahan Keagungan menjadi salah satu perwakilan Jakarta untuk di tingkat nasional pada gerakan GKSTTB ini. Mohon doanya," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Dian juga menyampaikan bahwa Jakarta Barat tengah menjalani proses penilaian Kota Layak Anak (KLA) 2026. Menurutnya, nilai yang diperoleh Jakarta Barat mengalami peningkatan dan saat ini tinggal menunggu proses verifikasi dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI.
"Harapannya tahun ini kita bisa mendapatkan predikat Utama. Salah satu poin yang ditanyakan tim penilai adalah adanya angka stunting di 53 kelurahan dari 56 kelurahan yang ada di Jakarta Barat. Jadi, 53 kelurahan masih ada anak-anak yang rentan stunting," ungkapnya.
Ia mengatakan, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya mengangkat tema stunting dalam pertemuan rutin Pokja IV. Berbagai program pemberdayaan keluarga dan kesehatan masyarakat dinilai memiliki keterkaitan dengan upaya pencegahan stunting, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Dian berharap pertemuan rutin yang diselenggarakan TP PKK Jakarta Barat bersama Sudin PPAPP tidak hanya menjadi kegiatan formalitas, tetapi juga memberikan bekal bagi kader untuk meningkatkan kemampuan dalam mencegah stunting di lingkungan masing-masing.
"Harapan saya, pertemuan pagi ini dapat bermanfaat dan diaplikasikan di keluarga Ibu-ibu sekalian, dan khususnya di lingkungan masyarakat sekitar Ibu bertugas," pungkasnya.
Pertemuan rutin Pokja IV TP PKK Jakarta Barat tersebut juga diisi pemaparan materi oleh dua narasumber. Pertama, dr. Putri Maulidiana Sari, MA, Analis Kebijakan Ahli Madya Direktorat BKKBN, yang membawakan materi percepatan penurunan stunting melalui perubahan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta pola asuh untuk mewujudkan sumber daya manusia unggul.
Narasumber kedua, Dr. Taufik Maryusman, AMG, S.Gz., M.Gizi., pendiri Bapak Melek Gizi sekaligus Ketua Pengurus Pusat Asosiasi Nutrisionis Indonesia, menyampaikan materi rekayasa sosial berbasis pentahelix dalam penanganan stunting. (why)





