Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Barat memetakan sejumlah lokasi saluran air yang diduga menjadi habitat ikan sapu-sapu.
Kepala Seksi Perikanan Sudis KPKP Jakbar, Aas Asih, menjelaskan pemetaan dilakukan sebagai langkah awal sebelum kegiatan penangkapan ikan tersebut.
“Beberapa titik sudah kami petakan, seperti di Cengkareng Drain, Kali Semongol, Sekolah Narada, dan beberapa lokasi lainnya,” sebutnya saat dikonfirmasi, Selasa (21/4).
Diungkapkan Aas, penangkapan ikan sapu-sapu sebelumnya telah dilakukan di Kali Taman Semanan Indah (TSI) pada Jumat (17/4) lalu. Untuk pelaksanaan selanjutnya masih menunggu penjadwalan berikutnya.
“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi berkelanjutan. Titik-titiknya sudah ada, tinggal pelaksanaannya,” ungkapnya.
Lebih lanjut Aas menjelaskan, ikan sapu-sapu merupakan spesies invasif yang berkembang sangat cepat dan dapat mengancam keberadaan ikan lokal.
“Ikan ini berkembang cepat, sehingga dapat mendesak populasi ikan lokal di perairan,” katanya.
Selain itu, sambungnya, ikan sapu-sapu juga berpotensi merusak infrastruktur saluran air karena kebiasaannya membuat lubang pada dinding turap.
“Sifatnya melubangi tembok untuk tempat berlindung, sehingga bisa merusak turap dan saluran air di wilayah Jakarta,” ujarnya.
Pihaknya juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengonsumsi ikan sapu-sapu, meski kerap diolah menjadi makanan seperti siomay. Ikan tersebut menurutnya berpotensi mengandung bakteri berbahaya seperti E. coli dan Salmonella, serta logam berat seperti timbal.
“Jika dikonsumsi terus-menerus, logam berat bisa terakumulasi dalam tubuh. Karena itu, ikan ini jangan dikonsumsi,” pungkasnya. (Aji)






