Halo Sobat! đź‘‹
Saya Bang-Batik. Ada yang bisa saya bantu terkait wilayah Jakarta Barat?
Publikasi
Aksi Kerja Bakti Terpadu Serentak
Aksi Kerja Bakti Terpadu Serentak
Kelurahan Tamansari | ROHMAN M
12 April 2026
Pembangunan
6
#KerjaBaktiSerentak
Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat kembali menggelar aksi Kerja Bakti Serentak, pada Minggu 12 April 2026. Untuk Kecamatan Taman Sari titik lokasi Kerja Bakti dilaksankan di Jl. Taman Sari Raya, khusus pengurasan Kali Taman Sari Raya Pasar Asem Reges, RW.07 Kelurahan Taman Sari. Sekretaris Kota Administrasi Jakarta Barat, Bapak Firmanuddin hadir dan memimpin aksi Kerja Bakti. Dalam sambutan pada apel cek kesiapan pasukan, Firmanuddin menyampaikan agar aparatur pemerintah tingkat Kecamatan, Kelurahan, RW dan RT harus terus menyampaikan edukasi kepada warga untuk melakukan gerakan pilah sampah di rumah. Sampah dipilah, digolongkan sesuai peruntukannya dan didaur ulang, agar dapat dimanfaatkan kembali atau bernilai ekonomis.Kerja Bakti Serentak melibatkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kecamatan Taman Sari dengan melibatkan Satuan Pelaksana diantaranya Lingkungan Hidup, Sumber Daya Air, Pertamanan, Perhubungan, Damkar, Satpol PP, KPKP, Sosial, dan Pendidikan. Hadir juga unsur tiga pilar TNI-Polri Koramil dan Polsek Taman Sari serta ASN Kelurahan Taman Sari, PJLP PPSU, RW.06 dan 07, para Ketua RT, LMK, FKDM, Karang Taruna, PKK dan warga masyarakatSampah kini menjadi problem yang nyata mengancam keberlangsungan hidup manusia. Kita pernah mendengar istilah “Sampah Masyarakat”. Sebuah istilah yang disematkan kepada pelaku kriminal yang ada di masyarakat. Masyarakat kita menolak hidup berdampingan dengan “Sampah masyarakat”, karena mengancam kehidupannya. Pemerasan, perampokan, bahkan pembunuhan dapat dilakukan oleh “sampah masyarakat”. Karena itu, masarakat kita setuju, tidak ada tempat untuk “sampah masyarakat”. Mereka dihukum, dikuculikan dan dipenjara. Padahal jika renungkan dengan bijak, sampah lingkungan memiliki eskalasi kerusakan yang jauh lebih fatal dari “sampah masyarakat”. Sampah lingkungan berdampak sistemik, tidak hanya untuk per individu manusia tetapi juga ekosistim kehidupan yang lain. Sampah lingkungan mengancam secara nyata seluruh makhluk hidup, manusia, hewan, tumbuhan dan alam raya baik air, udara dan tanah. Dampak sampah lingkungan yakni kita akan perlahan rusak, sakit dan mati. Semakin hari semakin banyak dan beragam jenis penyakit yang disebabkan oleh sampah lingkungan dan belum juga ditemukan obatnya. Sampah lingkungan seperti plastik, besi berdampak ratusan kedepan. Membutuhkan tiga sampai lima generasi manusia barulah sampah plastik dapat terurai. Selama ratusan tahun sampah lingkungan mengancam bumi tempat satu-satunya di galaksi manusia dapat hidup.Air sungai yang kini hitam pekat, tanah yang sudah tidak subur, air tanah yang tidak sehat dikonsumsi, udara yang merusak pernapasan kita, laut yang bahkan terumbu karang pun binas, cahaya matahari yang merusak kulit, adalah dampak dari tidak bijaksanakanya kita mengelola sampah lingkungan. Tidak ada lagi tempat sampah di bumi. Slogan buanglah, “sampah pada tempatnya” adalah paradigma purba, kuno dan tidak layak untuk keberlangsungan kehidupan. Sikap hidup bijak menanggulangi sampah diri sendiri harus menjadi habit dalam hidup. Tiap-tiap individu harus membiasakan bertanggungjawab terhadap lingkungan. Sampah dipilah dari rumah, didaur ulang atau dijadikan sumber ekonomi.Jika kita harus menghardik individu, “sampah masyarakat” maka perlakukan yang sama pun juga harus bagi pelaku sampah lingkungan. Mari kita hidup bijak dan berdampak positif sepanjang hayat, jaga lingkungan, ekosistim hidup kita. Kita semuanya biasakan dari individu kita dan menular ke keluarga serta lingkungan, pilah sampah, minimalisir sebisa mungkin sampah kita agar tidak menjadi sampah lingkungan. Terima KasihSalam LestariBumi yang Kita Hidup dan Jutaan Generasi setelah kita.