Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah resmi menyandang gelar doktor (S3) usai menjalani sidang promosi doktor ilmu pemerintahan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Jakarta Selatan, Senin (25/5).
Iin lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,95 atau cumlaude setelah mempertahankan desertasi yang berjudul Collaborative Governance Berbasis Artificial Intellegence pada Penanggulangan Kemiskinan di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, dihadapan tim penguji.
Tim penguji/penelaah yang hadir adalah Prof Dr. Drs Hyronimus Rowa, M.Si, Prof Dr Ismail Nurdin M.Si, Dr. Ir. Etin Indrayani,MT, Dr Tjahjo Suprajogo M.Si, dan Dr Siti Aminah MTP. Sementara komisi promotor Prof. Dr, Mansyur Ahmad M.Si. (Ketua promotor), Prof Dr Muhadam Labolo M.Si (anggota promotor 1) dan Dr Yudi Rusfiana S IP MSi (anggota promotor II).
Dalam sidang doktor turut dihadiri, Inspektur Provinsi DKI Jakarta, Dhany Sukma, Ketua DWP Provinsi DKI Jakarta, Lisniawati Uus Kuswanto, anggota DPRD DKI Jakarta, Hilda Kusuma Dewi, Kepala Kejaksaaan Negeri Jakarta Barat, Hj. Nurul Wahida Rifal, Kepala BPN Jakbar, Shinta Purwitasari, Wakil Wali Kota Jakbar, Yuli Hartono, Ketua TP PKK Jakbar, Ety Sartika Yuli Hartono serta sejumlah pejabat Pemkot Jakbar, para camat, lurah, perwakilan pengusaha, tokoh masyarkaat serta mantan anggota DPD DKI Jakarta periode 2019-2024. Sylviana Murni.
Di temui usai sidang, Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah merasa bersyukur bisa menjalani sidang promosi doktor ilmu pemerintahan dengan hasil memuaskan.
"Alhamdulillahirobbilalamin, semua proses telah dijalani dan hasil tidak pernah menghianati usaha. Saya sangat bersyukur bisa sampai di titik ini karena tentu melalui proses tahapan yang berliku serta dinamika yang sangat luar biasa," ujarnya.
Meski begitu, dirinya tidak mau jemawa karena keberhasilannya merupakan bentuk dari support sistem yang mendukungnya dari awal hingga akhir.
"Dari mulai keluarga, tentunya orangtua, suami, anak-anak yang terus mendoakan dan men-support, sekaligus lingkungan kerja pimpinan, termasuk tim hore. Tim hore ini baik ketika saya berada di Jaktim, Jakbar, Dinas PPAPP, serta teman-teman di lingkungan Pemprov DKI Jakarta, semuanya sangat membantu dalam mencapai penyelesaian penelitian," tuturnya.
Selain itu, Iin memaparkan bahwa hasil yang dicapai dalam penelitiannya akan diimplementasikan untuk kebermanfaatan masyarakat.
"Penelitian itu hanya semacam bagaimana kita melihat implementasi antara teori, regulasi maupun empiris yang kita temukan di lapangan. Selanjutnya, PR yang terbaiknya adalah kita harus mengimplementasikan hasil penelitian dengan maksimal, sehingga ada kebermanfaatan untuk masyarakat," tukasnya.
Terkait desertasi yang membahas Artificial Intelligence (AI), Iin menegaskan bahwa kehadiran AI akan membantu pemerintah dalam mengambil suatu keputusan. AI berperan sebagai enabler atau teman berpikir bagi pimpinan.
"Dalam hal ini, terdapat empat dimensi dari teori Smart Nation Governance System (SNGS) yang memperkuat kolaborasi bersama komponen Pentahelix," tuturnya.
Hal itu diperlukan, lanjut Iin, agar AI dapat memperkuat kecerdasan alami dalam ruang kolaborasi. Tujuannya adalah agar rumusan data yang dihasilkan untuk pengambilan kebijakan atau keputusan tidak boleh dipengaruhi kepentingan pribadi atau golongan.
"Harus bebas dari kepentingan dan konflik kepentingan (conflict of interest). Hal ini dapat dilakukan dengan algoritma yang dibangun melalui pembelajaran mesin oleh AI untuk memperkuat data yang masuk dari para kader maupun pendukung dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Kita harus menjadikan hal ini sebagai kolaborasi yang mendukung percepatan pengambilan keputusan yang lebih tepat sasaran," jelasnya.
Dalam kesempatan ini, Wali Kota Jakarta Barat menyampaikan terimakasih atas semua doa dan dukungannya. Karena hasil yang dicapainya ini tidak akan berhasil bila tidak ada saling sinergi.
"Kembali kepada konsep implementasi secara empiris, saya akan membawa hasil penelitian ini ke dalam satu program yang akan kami dukung, yaitu program penataan kawasan industri rumah tangga konveksi di Tambora," pungkasnya. (why)






