Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah, menghadiri diskusi dan pelepasan mahasiswa profesi kepamongprajaan IPDN angkatan XVII di Ruang Paseban Betawi, Kantor Wali Kota Jakarta Barat, Kamis (16/7).
Kegiatan ini dihadiri Sekretaris Program Pendidikan Profesi Kepamongprajaan IPDN, Ika Lestari, dosen pengampu, James Robert Pualilin, Kanit Lab, Pemerintahan, Pangkalan Data dan Sistem Informasi, Hardiyanto, Kanit Perpustakaan, Cut Laila, dan para mahasiswa profesi program kepamongprajaan IPDN.
Di hadapan para mahasiswa profesi, Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah menyampaikan sejumlah poin penting dalam memimpin wilayah dengan jumlah penduduk kurang lebih 2,5 juta jiwa.
Poin pertama, Iin Mutmainnah menekankan pentingnya kolaborasi. Menurutnya, kolaborasi tidak hanya dalam skala besar, tapi juga teritorial yang kecil, termasuk dengan wilayah yang berbatasan langsung dengan Jakarta Barat dengan Tangerang.
Iin mencontohkan penanganan banjir di Jakarta Barat yang tidak bisa diselesaikan sendirian. Banjir yang terjadi bukan hanya karena persoalan di dalam wilayah, tetapi ada kiriman dari hulu ke hilir.
"Ketika kita melihat suatu persoalan kita melihatnya dari sisi besar. Tetapi ketika kita mengerjakannya kita mulailah dari yang kecil. Itu menjadi prinsip," jelasnya.
Selain itu, contoh lainnya yaitu koordinasi yang dilakukan camat dan lurah pada wilayah-wilayah perbatasan, seperti wilayah Kecamatan Kembangan dan Kalideres.
"Terdapat pintu air yang menjadi penentu luapan banjir di dua kelurahan, sehingga perlu komunikasi intens dengan penjaga pintu air di wilayah tetangga," tuturnya.
Kedua, lanjut Iin, strategi yang disesuaikan dengan kearifan lokal. Karena setiap wilayah memiliki karakter yang berbeda-beda.
"Kearifan lokal Kebon Jeruk dengan Taman Sari itu berbeda. Taman Sari punya aspek wisata, Kebon Jeruk areanya banyak yang religius," ujarnya.
Untuk ketiga adalah pentingnya pola kerja delegatif. Menurutnya, untuk menyelesaikan permasalahan di Jakarta Barat, Wali Kota Jakarta Barat tidak mungkin bekerja sendirian. Ia membagi kewenangan secara delegatif kepada para camat.
Ia merinci ada dua program yang didelegatifkan kepada para camat. Program umum, seperti mitigasi banjir, pengendalian kemiskinan, penanganan sampah dan pemberdayaan masyarakat serta kamtibmas. Sementara program khusus, penataan kawasan industri konveksi di Tambora dan Penataan Pecinan Glodok di Taman Sari.
"Program umum target kinerjanya saya buat, tata kelolanya saya buat pedoman. Untuk program khusus tahun ini ada dua, saya turunkan camat sebagai koordinator di lapangan," ujarnya.
Selain itu, ia juga membuat jenjang penyelesaian suatu masalah di wilayah. Ketika konflik antar RW maka menjadi tanggung jawab lurah. Persoalan antar kelurahan diselesaikan camat. Jika permasalahan antar camat maka tanggung jawab di tingkat wali kota.
Iin mengajak seluruh peserta mahasiswa profesi IPDN angkatan XVII untuk membangun jejak digital positif dengan saling memviralkan kegiatan yang baik.
"Hari ini teman-teman harus ada jejak digital. Kita viralin yang bagus bareng-bareng. Kita berteman tidak hanya di dunia nyata, tapi juga di dunia digital," pungkasnya.
Sementara itu, Sekretaris Program Pendidikan Profesi Kepamongprajaan IPDN, Ika Sartika mengatakan, para mahasiswa profesi IPDN angkatan XVII, telah mengikuti kegiatan praktikum di lima kantor kecamatan di Jakarta Barat. Lima kecamatan tersebut adalah Kecamatan Taman Sari, Palmerah, Tambora, Grogol Petamburan, dan Kebon Jeruk.
"Jadi kami menamakannya kuliah praktikum. Ada lima tema atau lima materi praktikum yang dipraktekan terkait kolaborasi pemberdayaan masyarakat, kolaborasi dan musrenbang kecamatan, tramtibum, Binwas (pembinaan dan pengawasan), dan kolaborasi antar lembaga," ujarnya.
Diskusi dan pelepasan mahasiswa profesi IPDN angkatan XVII diisi dengan paparan singkat dari perwakilan mahasiswa terkait hasil praktikum pada masing-masing kecamatan. (why)





