Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar kegiatan Safari Ramadan 1447 Hijriah di Masjid Jami Al-Mansyur, Kelurahan Jembatan Lima, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, Rabu (11/3).
Acara ini menjadi momentum istimewa untuk mengenang sejarah perjuangan kemerdekaan sekaligus mempererat sinergi antara pemerintah dan masyarakat. Rangkaian acara dimulai dengan ziarah kubur ke makam tokoh ulama besar Betawi, Asy-Syekh KH. Moh. Mansur Bin KH. Imam Abd. Hamid (Guru Mansur). Kemudian dilanjutkan dengan penyerahan bantuan operasional masjid secara simbolis, dan buka puasa bersama warga.
​Dalam sambutannya mewakili Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Sekretaris Kota Jakarta Barat, Firmanudin Ibrahim, memberikan penghormatan tinggi atas jasa Guru Mansur. Beliau dikenal sebagai ahli ilmu falak (astronomi Islam) yang menjadi rujukan dalam menentukan kalender Hijriah serta prediksi gerhana.
​"Jasa dan nasab Guru Mansur sangat dihormati. Kami mendoakan dan berharap agar beliau dapat segera dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional," ujar Firmanudin.
​Ia juga menyoroti keunikan Masjid Al-Mansyur yang hingga kini masih menjadi patokan awal dan akhir Ramadan bagi masyarakat sekitar (kaum mortal/kolot) melalui metode perhitungan tradisional yang khas.
​Selain itu, piaknya juga menjelaskan terkait program Pemprov DKI Jakarta yang telah meningkatkan kuota mudik gratis secara signifikan.
​"Antusiasme warga sangat luar biasa. Dari kuota awal 16.000, kami tingkatkan menjadi 19.000, hingga akhirnya mencapai sekitar 30.000 kursi," jelasnya.
​Point lainnya, ia mengungkapkan mengenai ketertiban wilayah keamanan lingkungan, dirinya berpesan kepada para camat, lurah hingga RT/RW diimbau siaga mencegah kebakaran pada rumah yang ditinggalkan pemudik.
"Kemudian pencegahan tawuran agar bersiinergi antara Satpol PP dan tokoh masyarakat diperketat, terutama di titik rawan perbatasan seperti Tambora, Cengkareng dan Taman Sari," ungkapnya.
Sementara itu, ​Ketua DKM Masjid Al-Mansyur, H. Zuhru Fuadi, memaparkan sejarah panjang masjid yang dulunya bernama Masjid Kampung Sawah ini. Didirikan pada tahun 1717 Masehi oleh Raden Abdul Malik bin Pangeran Cakrajaya (Tumenggung Mataram), masjid ini merupakan simbol perlawanan.
​"Pada tahun 1948, di masa agresi militer Belanda, Guru Mansur dengan berani mengibarkan bendera Merah Putih di menara tertinggi masjid ini. Meski sempat ditahan di Gambir, beliau tetap teguh pada prinsip bahwa mengibarkan bendera adalah hak negara merdeka," tutur H. Zuhru.
​Secara fisik, masjid ini telah bertransformasi dari ukuran semula 12 meter persegi menjadi 1.278 meter persegi. Meskipun telah melalui revitalisasi besar pada tahun 2021 di era Gubernur Anies Baswedan-Sandiaga Uno dan mulai beroperasi penuh pada 2023, pengelola berharap adanya perhatian lanjutan.
​"Saat ini masih ada beberapa titik kebocoran yang perlu diperbaiki, serta kami sangat mengharapkan pengadaan pagar pengaman di area masjid demi kenyamanan jemaah," ucapnya.
Turut hadir mendampingi Sekko Kota Jakbar, Firmanudin Ibrahim antara lain Kabag Kesra Kota Jakbar Abdurrahman Anwar, Camat Tambora Pangestu Aji dan jajaran, Sekel Kelurahan Jembatan Lima Ghozali, perwakilan pengurus Bazis (BAZNAS) DKI Jakarta dan Kota Jakbar, serta tamu undangan lainnya.






