Pemerintah Kota (Pemkot) Administrasi Jakarta Barat mengambil langkah taktis dalam penanganan masalah sampah dengan mengandeng perusahaan Kimia Alam Subur (KAS) untuk penerapan teknologi pirolisis berbasis waste to product.
Menurut Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah, teknologi ini merupakan ramah lingkungan dan mampu mengolah sampah menjadi produk bernilai ekonomi.
"Hari ini, kami baru saja audensi dan bertukar pikiran terkait rencana penyelesaian masalah sampah secara kolaboratif. Tadi ada penawaran menarik dari PT Kimia Alam Subur (KAS) yang akan ditinjaklanjuti," ujarnya usai melakukan audensi dan presentasi teknologi pengolahan sampah dari PT KAS di kantor Wali Kota Jakarta Barat, Kamis (9/4).
Melihat presentasi penanganan sampah dengan menggunakan teknologi pirolisis berbasis waste to product dari PT KAS, lanjut Iin, pihaknya menyambut baik usulan dan tawaran dalam menangani sampah di Jakarta Barat.
"Langkah selanjutnya adalah menentukan lokasi yang akan disurvei terlebih dahulu. Karena, ini memerlukan kajian mendalam," ujarnya.
Selain lokasi, pihaknya juga akan melakukan kajian mendalam terkait lingkungan sekitarnya. Hal ini dilakukan agar penerapan teknologi penanganan sampah tidak muncul persoalan baru.
"Kami akan melakukan kajian secara ilmiah dan menyusun strategi komunikasi kepada masyarakat agar tidak terjadi kesalahpahaman. Kita harus berhati-hari dan mengikuti tahapan yang ada agar tidak muncul persoalan baru di kemudian hari," jelasnya.
Ia menilai, konsep teknologi pengolahan sampah yang ditawarkan PT KAS sangat baik dan dapat mereduksi sampah hingga menyisakan sampah residu 10 persen. Bila teknologi ini diterapkan maka masalah sampah di Jakarta Barat dapat teratasi dengan baik.
Sementara itu, Direktur PT Kimia Alam Subur, Hermawan Wibisono mengatakan bahwa pengolahan sampah dengan teknologi pirolisis berbasis waste to product. Secara umum teknologi ini tidak melakukan pembakaran secara langsung atau indirect combustion.
Ia menyebut teknologi ini ramah lingkungan dan mampu mengolah sampah menjadi produk bernilai ekonomi. Cara kerjanya, yakni sampah plastik dimasukkan ke dalam reaktor (piroliser), dipanaskan tanpa oksigen sehingga rantai polimer terputus dan berubah menjadi uap. Uap didinginkan menghasilkan cairan (minyak) dan gas.
"Suhunya bisa mencapai 400-700 derajat celcius, jadi tidak melakukan pembakaran secara langsung. Jadi melalui perambatan panas. Untuk sampah organik, prosesnya bisa 1,5 jam untuk 30 ton sampah," tegasnya.
Ia berharap teknologi pirolisis ini bisa digunakan untuk mengatasi masalah sampah di wilayah Jakarta Barat.
"Saat ini kita akan survei lapangan pada sejumlah titik lokasi. Nanti, mana lokasi yang cocok untuk bisa dijalin kerjasama. Harapan kami, kita bisa mulai MoU untuk penjajakan lebih mendalam," tambahnya. (why)






