Sebanyak 190 pelajar mengikuti Perkemahan Jumat Sabtu (Perjusa) Gugus Depan JB.05.043 -05.044 Teuku Umar - Cut Nya Dien yang berlangsung selama dua hari mulai 9 dan 10 Januari 2025 di halaman SDN Kebon Jeruk 11 pagi Jakarta Barat.
Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Nahdiana, mengatakan Perjusa (Perkemahan Jumat Sabtu) merupakan kegiatan keparamukaan yang dilakukan di sekolah untuk membentuk karakter yang nyata untuk melatih bersosialisasi, berbagi dan nilai lainnya.
"Kegiatan ini adalah bentuk pendidikan karakter yang nyata, di mana anak-anak berlatih bagaimana bersosialisasi, berbagi, dan nilai-nilai lainnya," katanya saat dikonfirmasi didampingi Kasudin Pendidikan Wilayah 1 Jakarta Barat, Diding Wahyudin, Jumat (9/1)
Dikatakan Nahdiana, kegiatan dilaksanakan pada Jumat dan Sabtu sehingga ada unsur Wiyata Mandala.
"Anggota Pramuka dapat mengenal lingkungan sekolah secara lebih nyata, baik pada situasi malam hari maupun pagi hari. Hal ini berbeda dengan keseharian mereka yang biasanya hanya berada di sekolah selama jam pelajaran berlangsung," ujarnya.
Selain itu, diungkapkan Nahdiana, pihaknya sedang mengembangkan konsep 'Urban Scouting' atau kepramukaan perkotaan, khususnya untuk di Jakarta. Kepramukaan di Jakarta tidak hanya sekadar kegiatan yang sudah lama ada, tetapi bagaimana anak-anak dapat bertahan hidup (survive) di kota besar.
"Terpenting dalam konsep pendidikan ini adalah pendidikan perilaku. Di tengah kesibukan kota besar seperti Jakarta, anak-anak diharapkan mampu membaca tanda-tanda di perkotaan dan menjadikannya sebagai sebuah ketangkasan dalam kepramukaan," ungkapnya.
Dirinya berharap, kegiatan ini tidak hanya berdampak pada anak-anak saja. Jika sekolah dapat menjadi sebuah ekosistem yang utuh yakni mulai dari para pembina, Bapak dan Ibu guru, hingga seluruh warga sekolah, maka ini akan menjadi sebuah gerakan.
"Kita harus memastikan bahwa di Jakarta, sebagai kota global yang berbudaya, tingkat kepedulian dan kepekaan sosial tetap terjaga. Kita ingin membangun budaya peduli satu sama lain, bukan sikap antisosial," ungkapnya.
Salah satu pilar pendidikan adalah sikap (attitude), sambung Nahdiana, anak-anak bisa tangguh menghadapi kemajuan dan hiruk-pikuk kota besar, namun tetap memiliki karakter kearifan lokal, seperti budaya antre dan rasa peduli.
"Kami berharap, ketika sekolah, rumah, dan masyarakat dapat berkolaborasi dalam sebuah orkestrasi yang baik, insyaallah anak-anak kita akan memiliki lingkungan yang nyaman untuk tumbuh dan berkembang," harapnya.
Di tempat yang sama, Kepala Sekolah SDN 11 Kebon Jeruk Pagi, Nurhayati menjelaskan, kegiatan diikuti sekitar 190 peserta didik kelas 5 dan 6, yang berlangsung selama 2 hari Jumat dan Sabtu.
"Nantinya para pesrta akan membentuk kepribadian anak yang luar biasa depan harapan kita menjadi unggul untuk DKI Jakarta," pungkasnya.
Lebih lanjut, Nurhayati menambahkan, perkemahan Pramuka adalah gerakan untuk melatih kemandirian anak-anak yang tadinya tergantung pada orang tua mulai dari bangun tidur dan mandi mulai belajar bangun sendiri.
"Mereka harus bisa kerjasama juga saling mandiri dengan teman-temannya selama satu grup berkemah," tandasnya. (Izu)






