page loader

BERITAKota Administrasi Jakarta Barat

PSBB Tahap 3 akan Berakhir, New Normalkah?

02 Juni 2020
| | |
Y
|
  CETAK
PSBB Tahap 3 akan Berakhir, New Normalkah?

Pemerintah DKI Jakarta akan melakukan evaluasi terkait berakhirnya masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada 4 Juni 2020.Evaluasi ini yang menentukan ada atau tidaknya perpanjangan PSBB di wilayah Jakarta. 

"Kita mengetahui bahwa PSBB ini masih berlaku sampai 4 Juni. Kita juga tau PSBB sudah tiga kali dilaksanakan. Pertama, PSBB 10 April-24 April, kemudian PSBB tahap 2 tanggal 25 April-22 Mei, sekarang PSBB tahap 3 tanggal 23 Mei-4Juni. Pertanyaannya, bila mungkin PSBB nanti diperpanjang ataukah bisa juga selesai," tutur H.Rustam Effendi Wali Kota Jakarta Barat, pada Focus Group Diskusi (FGD) tentang penerapan protokol kesehatan di Gedung Siti Maryam, Kedoya Utara, Jakarta Barat, Selasa (2/6)pagi.Hadir dalam kegiatan itu Dandim 0503 JB, Kol (Kav) Valian Wicaksono Magdi dan Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes (pol) Audie S. Latuheru. 

Menurut Rustam, Gubernur DKI Jakarta telah menyampaikan kemungkinan PSBB diperpanjang atau selesai pada 4 Juni.Itu semua tergantung dari kondisi masyarakat terhadap COVID-19. 

Bila kasus COVID-19 terus bertambah dikemungkinan PSBB kembali diperpanjang. "Sebaliknya, bilamana kedisiplinan masyarakat terjaga dengan tren angka kasus menurun maka kemungkinan PSBB, akan selesai,"ujar Rustam. 

Bicara tren kasus COVID-19, Rustam sedikit memaparkan perihal data kasus COVID-19 di Indonesia, khususnya DKI Jakarta. Data kasus yang dipaparkan terhitung sejak tiga hari belakangan ini, 30 Mei-1 Juni. 

"Saya ingin mengingat kepada para peserta, terkait perkembangan kasus COVID-19 di Indonesia, khususnya DKI Jakarta. Kita ambil tiga hari belakangan, yakni 30 Mei-1 Juni. Kasus COVID-19, per 30 Mei di Jakarta, positif COVID-19 berjumlah 7230 orang, pasien sembuh 2005 orang, dan 509 orang meninggal.Kasus COVID-19, per-31 Mei, positif COVID-19 berjumlah 7346 orang positif (bertambah 118 orang),pasien sembuh 2082 orang (bertambah 77 orang), dan meninggal 516 orang. Tanggal 1 juni, kasus positif 7485 orang (bertambah 117), pasien sembuh 2272 orang (tambah 192), meninggal 517 orang (1 orang),"jelasnya. 

Sementara itu, kasus COVID-19 di wilayah Jakarta Barat, per 30 Mei, kasus positif 1127 orang, pasien sembuh 408 orang, dan meninggal 91 orang. Tanggal 31 mei, kasus positif 1133 orang (tambah 6 orang), pasien sembuh 451 orang (tambah 43), meninggal 91 orang. Sedangkan per-1 juni, kasus positif 1147 orang (tambah 14orang), pasien sembuh 477 orang (tambah 26 orang),dan meninggal 91 orang. 

Melihat angka kasus COVID-19, Walikota Jakarta Barat menilai kasus COVID-19 di Jakarta masih bertambah, tapi penambahannya tidak seperti pada bulan April yang dinilai cukup tinggi.   

Ia berharap dan berdoa agar wabah COVID-19 ini segera berakhir. Sehingga masyarakat bisa kembali berakvititas kembali. "Kami minta masyarakat bersabar sambil melihat hasil evaluasi PSBB pada 4 Juni. Ke depan, bila nanti diperpanjang atau pun tidak, maka kita harus melakukan PHBS (prilaku Hidup bersih dan Sehat).Ini juga menjadi bagian penerapan PSBB,"pungkasnya. 

Komandan Kodim 0503 JB, Kol(kav) Valian Wicaksono menilai bahwa aparat TNI diperintahkan menjalankan penegakan kedisiplinan masyarakat dalam penerapan protokol kesehatan. 

"TNI dan Polri mendapat mandat atau perintah dari pimpinan untuk melaksanakan operasi pendisiplinan penerapan protokol kesehatan. Ada atau tidak hubungannya dengan PSBB, tapi kita semua harus menegakkan kedisiplinan agar memutus mata rantai penyebaran COVID-19," jelasnya. 

Sementara Kapolres Jakarta Barat, Kombes Pol Audie S. Latuheru menyampaikan bahwa wabah corona bisa menyerang siapa saja. Tak hanya petugas, tapi juga semua lapisan masyarakat. 

Agar memutus mata rantai penyebarannya, aparat kepolisian metro Jakarta Barat bersama aparat TNI dan Pemkot Jakbar melakukan sejumlah langkah dalam upaya melakukan pendisiplinan masyarakat. "Keberhasilan penerapan PSBB,bukan hanya dilihat dari pemakaian masker, menjaga jarak, atau cuci tangan. Bukan itu saja, yang menjadi masalah adalah ukuran tingkat kematian dan penyebaran kasus. Kita tidak bisa main-main dengan angka kasus tersebut, terlebih ada wacana penerapan New Normal,"jelasnya. (why)  

client logo
client logo
client logo
client logo
client logo
client logo