Pemerintah Kota (Pemkot) Administrasi Jakarta Barat melakukan uji coba cairan Eco Lindi atau penetral bau sampah, di dua TPS wilayah Kecamatan Tambora, Minggu (31/5).
Kegiatan kerjasama ini melibatkan tim dari Kabupaten Sidoarjo, Jawa timur. Kedatangan tim disambut Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah beserta jajaran, di Kantor Camat Tambora.
Tim terdiri atas Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Asekbang) Kabupaten Sidoarjo, M Bahrul Amig dan jajaran serta penemu cairan Eco Lindi, Rania Naura Anindhita.
Untuk diketahui, Eco Lindi adalah cairan penetral bau sampah ramah lingkungan yang terbuat dari fermentasi air lindi (cairan hitam TPA), molase (air tebu), asam sulfat, dan katalis organik.
Hadir pada kesempatan tersebut, Asekbang Jakbar Imron Sjahrin, Peneliti BRIN Siti Aminah, sejumlah Kabag, Camat Tambora Pangestu Aji serta 11 lurah se Tambora.
Usai diskusi di Kantor Camat Tambora, Wali Kota Iin Mutmainnah bersama tim Sidoarjo melakukan lapangan untuk melakukan uji coba Eco Lindi di TPS Jalan Duri Utara III, RT 15 RW 02 Keluarahan Duri Utara dan Tempat Pengolahan Sampah - Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Jl Hanura Raya, Kelurahan Tanah Sereal.
Wali KotaJalarta Barat, Iin Mutmainnah mengatakan penerapan Eco Lindi merupakan salah satu solusi untuk mengatasi bau sampah.
“Eko Lindi ini kita lihat menjadi salah satu solusi untuk menyelesaikan persoalan bau, masalah bau. Sampah itu kan pertama adalah bau Kemudian yang kedua adalah tumpukan sampah yang tidak terangkut,” ujarnya.
Dikatakan Iin, sampah yang belum terangkut ini pastinya akan menimbulkan air lindi.
“Air lindi inilah yang menimbulkan bau tadi. Nah, hari ini Alhamdulillah, terima kasih tim dari Kaupaten Sidoarjo yang hadir langsung kemari melihat wilayah. Dan kami langsung treatment di salah satu tempat, ini adalah depo sampah di Kelurahan Duri Utara,” jelas Iin.
Lebih lanjut dikatakan Iin, uji coba Eco Lindi tentunya tidak selesai dalam sekejap. Menurutnya, ini harus ada komitmen bersama. Pihaknya akan lakukan sebuah tata kelola secara berjenjang dari mulai RW sampai kelurahan, kecamatan dan tingkat kota.
“Kita akan lihat dalam beberapa waktu, pastinya ini akan terjadi perubahan yang signifikan, terkait khususnya mengenai masalah bau, sampah dan juga yang kedua mengenai bagaimana kita bisa mengelola sampah dari sumber dengan lebih efektif,” tandasnya.
Ke depan, sambungnya, penggunaan Eco Lindi akan dilakukan di TPS-TPS kecamatan lainnya.
“Ya, betul. Jadi kan kalau sebuah uji coba kita perlu beberapa lokus. Kenapa saya tempatkan di Kecamatan Tambora sebagai tempat pertama, sebagai lokus percontohan. Karena pertama, Tambora memiliki luas yang dengan kepadatan penduduk tertinggi dan juga memiliki keterbatasan lahan untuk meletakkan TPS,” jelas Iin.
Dua tingkat kesulitan ini, lanjutnya, menjadi hal yang harus dipecahkan bersama.
“Karena tentu sampah kan diproduksi tiap hari dan Tambora juga memiliki potensi sampah dari limbah industri konveksi. Jadi menjadi sebuah potensi sebenarnya, tapi kalau tidak diolah dengan baik akan menjadi persoalan. Untuk itu saya melakukan uji coba pertama di Kecamatan Tambora agar kita bisa lihat nanti perubahannya,” katanya.
“Tentu tujuh kecamatan lainnya segera kita akan juga lakukan sambil berjalan secara parsial dan secara bertahap besok juga kita akan lakukan koordinasi dan sosialisasi tentang teknologi Eco Lindi ini. Terima kasih banyak tim Kabupaten Sidoarjo. Ketika kita bekerjasama, bersinergi dengan banyak komponen, persoalan di wilayah pasti bisa kita selesaikan bersama-sama, tentu dengan komitmen,” sambungnya.
Sementara itu, penemu cairan Eco Lindi, Rania Naura Anindhita, mengungkapkan Eco Lindi adalah sebuah inovasi yang ia temukan saat masih menjadi mahasiswa. Dari S1 hingga kini sudah berjalan sekitar 4,5 tahun. Dalam pengembangannya inovasi ini sudah digunakan lebih dari 7 TPA di Indonesia.
“Eco Lindi ini bahan utamanya adalah air lindi. Jadi yang saya maksudkan adalah membuat air lindi yang ramah lingkungan dengan bahan-bahan yang memicu proses katalisis di dalam sampah-sampah supaya nanti sampahnya tidak bau. Tidak menghasilkan gas metana dan kemudian tidak membawa vektor penyakit dengan dihinggapi lalatm” jelas Rania.
Ia menegaskan penggunaan Eco Lindi aman lantaran sudah dipraktikkan.
“Untuk keamanannya saya cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa Eco Lindi ini aman. Karena memang sudah dipraktikkan, dan bahkan kami juga bereksperimen terhadap tanaman, kemudian kita kasihkan ke kolam-kolam ikan. Itu ternyata dari tanaman dan ikannya tidak mati,” katanya. (Aji)






